MANTU

Manten JawaSeminggu lalu saya menemukan buku yang dibalut undangan dari Gresik, sebuah gimmick yang menarik. Judulnya, “Manten Jawa: Refleksi dari Gendhing, Tembang dan Wayang”. Buku itu dikirim langsung oleh penulisnya sendiri, senior saya mas Bambang Subroto SR. (Kala ia menjadi Pemimpin Redaksi “Gelora Mahasiswa”, koran kampus UGM, saya adalah Redaktur Pelaksana, 1975-1977). Yang unik, buku tersebut merupakan souvenir sekaligus undangan untuk para tamu pada hajatan (mantu) putri pertamanya, 23 Desember 2008. Sayang, pada peristiwa agung itu saya tak bisa hadir karena sedang berhaji di tanah suci.

Foto manten ala Jawa“Menjadi “Manten Jawa” harus selalu siap. Siap diberi dan siap menangkap lambang-lambang. Setelah itu siap menerjemahkan, siap melakukan pembelajaran. Upacara adat “Manten Jawa” dapat diibaratkan membuka-buka buku tentang kesiapan, ” demikian pembuka buku tersebut. Namun, dalam tulisan saya berikut bukanlah membahas atawa membedah buku yang sarat makna itu (khususnya buat orang Jawa). Tetapi kerena kebetulan, Sabtu (22/3) karib saya H. Masyhud Rahmi, sama-sama pernah jadi redaktur Gelora Mahasiswa, berhajat (mantu) pula. Keduanya mantu anak pertama. Keduanya Jawa. Mas Bambang asal Surakarta Hadiningrat, mas Masyhud asli Korea, eh Kroya. Keduanya beda, setidaknya menurut Clifford Geet. Bambang abangan, Masyhud santri. Jadi, kesimpulan saya sementara, ritual mantunya pun pasti beda.

Buku itu sekaligus acara permantuan kedua teman ini menggelitik saya. Pertama, saya orang Jawa. Kedua, saya “telanjur” mantu (hampir 3 tahun lalu) yang barangkali tidak nJawani. (Karena Jawa pesisir?). “Perkawinan dalam perspektif Jawa, dibagi menjadi 2 (dua) jenis berdasarkan “ribyek” dalam merayakannya. Pertama, dikenal dengan Ngrabekne atau mengawinkan anak laki-laki. Kedua, Mantu atau mengawinkan anak perempuan. Sebagaimana tradisi yang berjalan selama ini, Mantu atau mengawinkan anak perempuan dirayakan lebih besar dibanding Ngrabekne.” (hal 11). Apalagi anak pertama! Malah menurut istri saya, Jawa juga, mantu itu dari kata “di-eman-eman metune” (dikeluarkan dengan penuh rasa sayang).

Karena itu pada saat kami mantu istri saya mengajukan tanggal bagus, 5-5-2005. Ini bukan berasal dari otak-atik weton (hari kelahiran menurut hitungan Jawa kedua calon mempelai), tapi ya karena gampang diingat. Ternyata pada tanggal itu banyak juga
orang mau mantu. Sesudah saya survei, gedung atawa tempat perhelatan yang biasa disewa di Yogya sudah fullbook. Terpaksa cari hari lain (yang penting hari libur agar semua sanak-famili yang jauh bisa hadir), kali ini diputuskan bersama dengan anak saya. Pokoknya semua hari, insyaallah, baik.

Nah, karena kami tinggal di kampung, Yogya pula, maka meski kami sepakat (terutama denga perias calon pengantin) tidak menggunakan full adat Jawa (salah satu alasannya buku “Manten Jawa” ini belum terbit he..he..), tetapi usulan panitia acara perkawinan (istilah mas Bambang Kumbakarnan) yang kami bentuk kadang membuat saya terbengong-bengong. Mereka usul, misalnya, di gang menuju rumah kami haris dipasangi Blaketepe. Saya tanya kepada mereka apa pula itu? Tak ada yang bisa menjelaskan yang bisa segera saya tangkap maknanya. Ternyata, “Blaketepe adalah
anyaman daun kelapa tua, yang pelepahnya dibelah dua. Setiap belahan dianyam membentuk persegi panjang. Ukuran blaketepe sekitar 2 meter. Blaketepe merupakan singkatan Yen wis ditumplek blek, rakete katon peni (jika seluruh sumberdaya telah dicurahkan, maka semua akan memperindah keakraban terhadap sesama)” (hal 136).

Pemasangan blaketepe ini pun butuh upacara yang dilakukan oleh yang punya hajat. Saya dan istri, misalnya, harus bersama-sama mengikat dua unting padi di kanan kiri Gapura Tarub (Gapura=pintu gerbang, Tarub berasal dari bahasa Arab Ta’arub berati pengumuman atau tanda bahwa di rumah tersebut sedang punya gawe). Tetapi karena ketidaktahuan saya, atau barangkali karena kami ingin yang moderat, maka blaketepe
pun lewat.

Mantu, meskipun sudah digagas jauh hari, mengerahkan daya dan tenaga, apalagi untuk anak pertama (sama seperti pengalaman pertama) pasti mengalami stres. Saya juga. Apalagi buat kami, mantu anak pertama sekaligus satu-satunya lagi. Karena itu, saya dan istri berusaha sekuat tenaga, berdoa sekuat tenaga pula. Ihlas dan pasrah.

Khusus mendesain undangan saya minta tolong sahabat saya, Ahmad Luqman, seorang arsitek yang lihai grafis. Daftar siapa yang bakal diundang saya kumpulkan dari relasi saya, rekan-rekan istri dan karib anak saya. Jumlah undangan kami batasi seribu sesuai dengan kapasitas tempat perhelatan, Restoran Hegar, Jl. Adisucipto, Yogya. Saya dan istri selalu diingatkan oleh teman-teman yang pernah mantu, apapun yang kami lakukan pasti ada 1-2 teman yang terlewatkan. Itulah manusia.

Sebenarnya beberapa bulan sebelum kami menentukan hari “H” mantu itu, saya sudah menerima kabar dari panitia Seventh International Congress on AIDS in Asia and the Pacific, di Kobe, Jepang, bahwa makalah saya lolos seleksi karena itu saya memperoleh kesempatan melakukan presentasi oral. Indonesian HIV-AIDS Prevention Care and Project (IHPCP) juga bersedia menyeponsori kepergi-pulangan saya ke Jepang. Namun, saya sempat gamang. Karena kalau saya jadi ke Kobe (1-5 Juli 2005) berarti ‘H-10″ hingga “H-5″ saya masih berada nun jauh di sana. Dan 6 Juli tiba di Yogya 4 hari kemudian saya mantu. Tetapi, sesudah berembug dan beristikharoh, istri saya mendorong: “Berangkatlah ke Kobe karena ini kesempatan yang belum tentu terulang!” Saya juga minta pendapat anak saya, ia juga mengatakan hal serupa.

Akhirnya, dengan menahan gundah yang dalam, saya berangkat ke Kobe. Ketika pamitan, saya cium istri dan anak saya dengan rasa yang menyesaki dada. Bismillah, doakan agar kelak semua lancar, ya, bisik saya.
Menjelang pulang ke tanah air, saat di bis menuju bandara Kobe, saya ceritakan soal ini kepada pak Dr Santoso, Direktur RS Sulianti Suroso, Jakarta, yang duduk di sebelah saya. Ia hanya termangu mendengar semua itu (barangkali yang muncul di batinnya, orang Jawa kok tidak nJawani=menjalani ritual menjelang mantu).

Alhamdulillah, semua prosesi berjalan lancar termasuk ketika membacakan khotbah nikah yang saya cuplik dari buku karya Dr. Amin Abdullah, rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sahabat-sahabatku dari komunitas “Gelora Mahasiswa” (GM) UGM (H.Ibnu Subiyanto/mantan Pemimpin Umum, sekarang Bupati Sleman, Imam Anshori Saleh, mantan Redpel, kini anggota DPR-RI, Saur Hutabarat, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, mantan Pemimpin Umum, Prof.Dr. Edhi Martono mantan Redaktur GM dan Ir.Ahmad Luqman dari Jakarta), Prof.Dr. Hotman Siahaan dan Tjahjo Purnomo dari Surabaya. Bahkan Drs H.Sudiyantoro, kala itu Sekda Kab. Pekalongan dan Ir.H. Chaeruddien MS, Ketua Bappeda Kota Pekalongan, datang langsung dari Kota Batik. Komunitas saya yang lain, Angkatan 1973 FKH-UGM, yakni Drh Agus Heriyanto MPhil, Kepala BMSOH, Drh Wayan Sudiana MBA, Direktur Charoen Pokphand, Kol.Pol. Drh Budhiono, ketiganya dari Jakarta. Juga Drh Woroharti (istri Drh A.Prabowo, Ph.D yang berhalangan) datang bersama anaknya dari Lampung. Hanya Drh H.Chaidir MM, ketua DPRD Prov.Riau tak bisa hadir karena sedang umrah. Tetapi ia mendoakan kami dari Mekah. Hampir semua sahabat saya, istri (Drh Hj.Suhartini dari Batam), anak, hadir. Prof.Drh. HR Wasito Ph.D mantan Dirjen Peternakan dan istrinya Prof.Drh. Hastari W., Ph.D juga datang. Pak Wasito sekaligus menjadi saksi perkawinan anak saya. Maafkan saya kalau terluput menyebutkan kehadiran sohib yang lain. Namun, yang paling membuat hati saya bungah sekaligus haru, bang Ashadi Siregar, direktur LP3Y, menunggui perhelatan kami sampai usai. Padahal, pada hari yang sama adiknya, Rizal Siregar, juga mantu di Medan. Ia berbagi tugas, istrinya yang datang ke Medan. Ah, betapa teman, relasi, handai taulan begitu baik terhadap kami. Itulah kenangan yang melintasi kami. Sekali berarti sesudah itu abadi. Amin.


About this entry