Sego Megono vs Purimas

MegonoMenjejak kampoeng halaman pastilah mengaduk-ngaduk sekian giga juta memori yang berada di kepala. Tapi hati juga berperan memberi nuansa, warna, agar bisa memilah mana yang abu-abu dan mana pula yang ungu. Itulah yang saya alami minggu lalu. Berangkat dari Wates, melalu berbagai jalan alternatif, yang sempit, sepi, berkelak-kelok, mendaki dan menurun, memakan waktu 5 jam, sampailah saya di Pekalongan, kampoeng halaman sekaligus kota kelahiran. Di Yogya, apalagi di Wates, saya nyaris tak pernah berjumpa dengan warga atawa komunitas Opec (Orang-orang Pecalongan). Ketika jadoel, masa awal di Yogya, saya dan teman-teman seasal membuat dan membangun komunitas itu, meski lingkupnya lebih kecil lagi (tak mencakup seluruh Kab-kota Pekalongan, cuma 2-4 kecamatan saja). Tapi yang selalu membuat pertemuan itu selalu kembali ke akar adalah ritual menyantap sego (nasi) megono.

Megono adalah cacahan nangka muda dicampur parutan kelapa muda lalu ditambahi bawang merah, bawang putih, cabai rawit, ketumbar, jintan, lengkuas, dan kemiri, irisan bawang merah, cabai merah besar, daun salam, dan bunga kecombrang, lalu dikukus. Dimakan selagi hangat, rasanya seperti balik ke masa lalu. Dan bagi Opec asli (siapa tahu ada yang aspal) sego megono adalah bagian tak terpisahkan dari suasana kerakyatan. Dari desa di pelosok sampai di pusat kota, yang muda dan yang tua, yang kaya dan yang miskin, sego megono adalah sebuah ritual sarapan warga Opec.
Sego megono adalah sisi kerakyatan. Sebab di sisi lain ada semacam legenda makanan lain di Pekalongan, yakni roti Purimas. Sego kayaknya vis-a-vis dengan roti. Bahkan mungkin ada semacam dikhotomi, sego makanan rakyat, roti makanan the haves (rakyat plus-plus). Bagi penyimak buku Das Kapital mungkin akan lebih cepat menyimpulkan analisa atas fenomena itu. Jadoel, roti berlabel Purimas itu membawa gengsi. Kalau orang sudah berhajat kemudian menyuguhkan roti itu, wah sudah menjadi perbincangan orang. Statusnya naik kelas.
Tapi dalam zaman yang berpacu dengan kemajuan, fenomena itu berubah. Purimas sudah berkibar di mana-mana (hampir di seluruh kota besar di Jawa). Dan Megono? Masih tak beranjak di Pekalongan. Kalau pun ada satu-dua yang coba dikibarkan di berbagai kota, wajahnya tetap dipenuhi rona kerakyatan. Tapi bila disimak, Purimas (di Pekalongan) sudah ditambahi label 3. Artinya, Purimas kini sudah diwarisi dan dikembangkan oleh generasi 3. Nyawa kapitalistisnya yang mengkota itu selalu dikedepankan. Barangkali istilah pemasarannya brandingnya orang kota, yang (sok) modern, serba sibuk, karena itu kemasannya pun dibikin imut, agar tidak terkesan mengenyangkan. Dan Megono tak pernah punya label tambahan. Ia sudah menjadi milik rakyat atawa warga Opec. Akankah ia akan mengalami pasang surut, seperti rekannya Purimas itu? Pasti. Cuma, saya yakin megono tak akan lenyap di Pekalongan. Karena ia adalah salah satu ruh daerah itu.


About this entry