AIR ZAM-ZAM GARUDA

Suasana thowaf wadaInilah hari terakhir kami di maktab 714. Pukul 16 kami akan meninggalkan Aziziyah menuju Jedah. InsyaAllah, dari Jedah kami akan menuju Solo pada Ahad pkl 00.01. Diperkirakan sampai di Solo Ahad,6 Jan 2008 pukul 19.00 WIB. Ini hari Jum’at tapi jami tak mungkin berjum’atan di Haram karena tadi pagi sudah pamitan (thowaf wada). Mushala depan maktab memang tidak dipakai Jum’atan, alternatif lain kami akan berjum’atan di masjid belakang Aljaad Crom Hotel, Mahbas, ada masjid yang biasa untuk Jum’atan. Tetapi kali ini masjid itu pintu-pintunya ditutup tak dipakai shalat, entah saya tak tahu alasannya (atau mungkin karena jamaahnya sudah banyak pulang ke negara masing-masing?). Jadi karena tak ada masjid yang menyelenggarakan shalat jum’at di dekat maktab, karu memutuskan sholat zuhur & asyar dijamak-qosor di maktab.Pukul 15.55 kami berangkat menuju Jedah, masing-masing rombongan 1 bis (total 9 bis).

Di depan masjid terapung Laut MerahAlhamdulillah, perjalanan lancar, sampai di Hotel(?) Rahily, Jedah (ternyata apartemen baru yang sebenarnya didesain 1 kamar 2 bed, tapi dimanfaatkan kala musim haji diubah menjadi kamar ber-AC diisi 8-10 ranjang sederhana). Apartemen ini terletak di daerah perdagangan mobil. Di pojok depan ada 1 ruang dimanfaatkan untuk persewaan mobil (Rahily Rent a Car). Di sebelah kanan apartemen, tepat di pojok perempatan jalan, ada pompa bensin, pondok kopi expreso (1 gelas 6 rial) yang melayani pengendara mobil, ada kedai kebab (1 real, kecuali isinya hati unta 2 rial). Pengisian bensin disini sama seperti SPBU di tanah air. Cuma harga premium itu lo, murah banget. Harga per liter premium non-timbel sekitar Rp1500, yang bertimbel Rp1250. Harga mobil? Hyundai Elantra harganya cuma 40.000 rial (sekitar Rp10jt, built up, eh ya semua mobil di Arab Saudi built up), sedang Mercy seri S terbaru 400.000 rial.

Acara esok sebelum terbang ke Solo, KBIH ‘Aisyiyah akan berdarmawisata ke Laut Merah. Kami dapat jatah makan selama di Jedah 3x sehari (malam ini, besok pagi dan siang). Makan malam di pesawat, barangkali. Di apartemen ini kami di kamar 1025 berisi 7 org (selain kami seregu/berempat + 3 orang dari regu lain). Sabtu 5 Jan 2008. Ketika saya sedang asyik menyantap bubur kacang (semangkuk 2 rial, penjualnya orang Indonesia yang “jemput bola” ke apartemen Rahily dengan mobil Toyotanya), datanglah 9 bis yang bakal mengangkut tamasya kami, lebih awal dari rencana semula, pukul 7.photo076.jpg Paket makan pagi dengan lauk daging unta+kacang buncis datang pukul 6.30. Selepas sarapan kami menuju Laut Merah. Seperti layaknya pantai untuk wisata banyak orang jualan mengais rejeki turis. Termasuk orang Indonesia yang tinggal di Jedah ikut menggelar dagangan makanan/jajanan ala Indonesia (bakwan, tempe goreng, pisang goreng @ 1 rial/5 rial 6, sate ayam/kambing 5 tusuk+lontong 5 rial). Juga ada beberapa orang Indonesia berjualan kurma muda (katanya untuk obat mandul) @ 5 rial. Di pinggir pantai Laut Merah ini ada masjid yang menjorok ke laut. Orang-orang menyebutnya masjid terapung, meski sebenarnya tidak terapung. Dari tempat ini kami ke masjid Qisas, yang di depannya ada semacam tenda permanen tempat hukuman/qisas dilaksanakan. Hukuman ini biasa dilaksanakan hari jum’at, sehabis jum’atan. Selama perjalan menuju masjid itu si sopir bis menjadi pemandu (tidak gratis lo, ujung-ujungnya ia minta tip juga). Air Muncrat 100 mAda juga air muncrat 100 meter (hanya bisa dilihat bila malam, bila siang cuma tugunya yang nampang airnya ngumpet).

Sesekali sopir melintaskan ke berbagai patung modern yang banyak dipasang di berbagai taman di sepanjang jalan Jeda-Laut Merah. Padahal keberadaan patung-patung dilarang di tanah Haram (Mekah dan Madinah), jadi di Jedah ini ekspresi kesenian patung ditumpahkan. Ada patung, misalnya, sepeda yang sangat besarSepeda Nabi Adam (raksasa), si sopir bis kami menceritakan bahwa itu adalah sepeda nabi Adam. (Ah, sudahkah ada sepeda di masa itu?). Juga dilewatkan ke sebuah lapngan luas yang disebutnya sebagai makam Siti Hawa (Tapi tak boleh difoto). Panjang makam itu 144 meter. Wallahu’alam.

Pukul 13.30 saya diajak karu ikut rapat evaluasDi depan masjid Qisasi rombongan 3. Intinya, uang iuran rombongan yang dikutip 50 rial/kepala pada awal keberangkatan ternyata masih sisa sekitar 1000 rial. Lantas akan digunakan untuk apa uang ini? Kesimpulan rapat, sisa uang akan dibagi per kepala (45 orang) 15 rial. Uang yang masih ada akan digunakan untuk memberi tip supir, ongkos kuli baik di Jedah maupun di Donohudan. Dan kalau kelak masih tersisa uang tersebut akan diserahkan ke Pesantren Almanar & Panti Asuhan Muhammadiyah Wates (apalagi berdasar tuturan pak H.Muh. Ilyas Sulaiman BA, donatur panti asuhan itu semakin menciut).Pukul 14 waktu Jedah kami bersiap-siap menuju bandara King Abdul Aziz, meski kemudian oleh ketua kloter 30, M.Najib, diinformasikan kalau kami akan menuju bandara sesudah sholat maghrib (dijamak-qosor dengan isya).

Menjelang pukul 19 kami menuju bandara. Sesampai di bandara kami masih harus menunggu proses keberangkatan yang direncanakan pkl 00.01. Informasi dari Garuda bahwa barang-barang yang boleh dibawa hanya tas tenteng (Garuda) membuat sebagian jamaah sibuk. Kami segera menyortir barang-barang yang akan dibawa. Padahal menurut pak Sumbarjo, besan saya yang sudah pulang ke tanah air seminggu lalu menyatakan bahwa membawa tentengan lain (oleh-oleh ringan seperti mainanMenunggu di bandara King Abd Aziz anak-anak) tidak apa-apa. Namun, karena berkali-kali diingatkan ketua kloter 30 perihal batas maksimal barang-barang yang akan dibawa, saya dan istri pun meringkas rangsel punggung yang semula 2 jadi 1, dg catatan bila 1 rangsel inipun tak boleh dibawa apa boleh terpaksa kami tinggal di bandara ini. Isinya? Unta mainan untuk cucu saya, juga kurma yang diambil langsung dari pohonnya tanpa proses pemasakan seperti yang lazim dijual di toko. Pak Tarjo juga sibuk membongkar kembali barang-barang bawaan, termasuk melepas kardus tempat Al Qur’an digital yang dibelinya di Pasar Seng.

Proses check-in inilah yang membuat banyak jamaah kawatir. Pak Kamiran yang menunggu jamaah antre berkomentar, ini beda dengan tahun lalu. Kayaknya sekarang lebih ketat seperti kawatir terhadap teroris. “Dulu jaket tidak disuruh copot segala”. Karena terkesan sangat hati-hati check-in berjalan lamban, meski jalur perempuan & laki-laki dipisah. Proses ini seluruhnya usai sekitar pkl 12.45. Lalu kami masih harus berada di ruang tunggu untuk menaiki bis (sekaligus diberi souvenir oleh Kerajaan Arab Saudi berupa Al Qur’an yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia + buku petunjuknya).

Akhirnya kami baru lepas landas meninggalkan Jedah pkl 01.30 atau molor 1,5 jam. Waktu tempuh menuju Hang Nadim (Batam) akan ditempuh selama 9 jam (sampai di Batam sekitar pkl 15.00 waktu Indonesia). Kali ini sholat subuh dilakukan berjamaah dengan bertayamum di pesawat dengan muazin dan imam pak Kamiran Komar. Kali ini sholat terasa lebih khusuk, sejuk, tanpa beban, karena kewajiban & rukun haji sudah dilaksanakan, insyaallah, paripurna. Pengisi kuliah subuh ustadz Faturohman Kamal, LC, MSi. Isinya tentang perlunya penguatan aqidah Islam dari gempuran globalisasi, liberalisasi dan sekularisasi.

Ahad 6 Januari 2008. Alhamdulillah, pukul 17.00 WIB pesawat Garuda yang membawa kami (jemaah kloter 30) mendarat mulus di bandara Adisumarmo, Solo. Sembilan bis Aerowisata sudah menunggu mengangkut kami ke Donohudan. Di Donohudan kami diserahterimakan kembali ke Pemda Provinsi DIY yg diwakili Wabup Kab.Sleman Sri Purnomo. Sebelum pulang kami bisa menerima air zam-zam dalam jerigen masing-masing 5 liter. Saya sudah membayangkan inilah oleh-oleh khas dari Arab Saudi. Saat itu, Kamis, 3 Januari 2008 diumumkan oleh ketua kloter 30 bahwa tas besar plus jerigen yang berisi zam-zam 5 liter (air zam-zam ini saya isi sendiri dibantu besan di masjidil Haram, sesudah pihak Garuda hanya memberi jerigen kosong. Menurut ketua kloter yang membacakan maklumat dari pemerintah Arab Saudi, bahwa Garuda sekarang tidak diperkenankan membawa air zam-zam sendiri yang kemudian dibagikan kepada para jamaah di masing-masing bandara kedatangan di Tanah Air, karena ada kekawatiran Kerajaan zam-zam ini akan diperdagangkan). Zam-zam di jerigen Garuda

Ternyata ketika kami ambil air zam-zam jatah masing-masing jemaah di Donohudan malam itu bukanlah milik kami sebenarnya. Walau diberikan masih dalam jerigen Garuda tetapi tidak dilak dan kosong tanpa nama jemaah. Padahal ketika saya dan kawan kumpulkan dulu bersama tas besar, sudah kami lak dengan biaya 5 rial dan kami tulisi lengkap nomor kloter, nama & alamat lengkap jamaah. La, sekarang kok dapat kosongan (tanpa lak lagi), apakah benar ini berisi air zamzam (bukankah Garuda sudah tidak diperkenankan mengambil zam-zam lagi?). Ketika hal itu kami tanyakan kepada petugas setempat, jawaban mereka enteng: ”Mungkin punya bapak terkirim ke Kalimantan.” Lo kalau punya kami terkirim ke daerah lain, logikanya kan kami terima air zam-zam dari daerah lain pula. Ini jelas masih kosong. Ada apa sebenarnya ini? Yang saya diketahui tentang air zam-zam, walaupun oleh pemerintah Saudi Arabia dilarang untuk diperdagangkan, kenyataannya di Indonesia sudah menjadi barang dagangan. Sebagai contoh, pak Tarjo pada minggu kedua di Mekah langsung mengirim 10 liter air zamzam ke Indonesia. Air zam zamnya gratis, ia hanya membayar jerigen dan kantong plastik sekaligus laknya 10 rial, kemudian ongkos kirim 10 rial/liter (untuk Jawa). Jadi, ongkos keseluruhan 110 rial. Kalau 1 rial nilai kursnya Rp 2500 maka 10 liter sampai di Indonesia harganya Rp 275.000 (bahkan menjelang pulang ke Indonesia biaya kirim zam-zam per liter 8 rial). Tetapi di Yogyakarta, misalnya zam-zam 10 liter dijual Rp 300.000 – Rp 320.000. Apakah itu murni air zam-zam, wallahu’alam. Tetapi kalau para jemaah yang ambil sendiri, kemudian dikemas dan dilak, serta diberi identitas lengkap, dijamin itu asli. Para jamaah akhirnya hanya memohon kalau itu memang berisi zam-zam tipu-tipu ya biarlah Allah melaknatinya. Amin.

Sumur Zam-zam yang sekarang ini kita lihat adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib kakeknya Nabi Muhammad SAW. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran” maka sumur Zam-zam termasuk kategori sumur gali (Dug Water Well).

Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batupasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.

Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zam-zam.

Kedalaman 17 meter ke bawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini (Diorit) memang agak jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab. Pada bagian atas batuan ini dijumpai rekahan-rekahan yang juga memiliki kandungan air. Dulu ada yang menduga retakan ini menuju laut Merah. Tetapi tidak ada (barangkali saja saya belum menemukan) laporan geologi yang menunjukkan hal itu.

Peta sumur ZamzamDari uji pemompaan sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11 – 18.5 liter/detik, hingga permenit dapat mencapai 660 liter/menit atau 40 000 liter per jam. Celah-celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang kearah hajar Aswad dengan panjang 75 cm denga ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil kearah Shaffa dan Marwa.

Keterangan geometris lainnya, celah sumur dibawah tempat Thawaf 1.56 m, kedalaman total dari bibir sumur 30 m, kedalaman air dari bibir sumur = 4 m, kedalaman mata air 13 m, Dari mata air sampai dasar sumur 17 m, dan diameter sumur berkisar antara 1.46 hingga 2.66 meter.

Kota Makkah terletak di lembah, menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang mensuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 Km2 saja, tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air Sumur Zam-zam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.

Sumur ini secara hydrologi hanyalah sumur biasa sehingga sangat memerlukan perawatan. Perawatan sumur ini termasuk menjaga kualitas higienis air dan lingkungan sumur serta menjaga pasokan air supaya mampu memenuhi kebutuhan para jamaah haji di Makkah. Pembukaan lahan untuk pemukiman di seputar Makkah sangat ditata rapi untuk menghindari berkurangnya kapasitas sumur ini.

Llokasi sumur Zamzam yang terletak ditengah lembah yang memanjang. Masjidil haram berada di bagian tengah di antara perbukitan-perbukitan di sekitarnya. Luas area tangkapan yang hanya 60 Km persegi ini tentunya cukup kecil untuk menangkap air hujan yang sangat langka terjadi di Makkah, sehingga memerlukan pengawasan dan pemeliharaan yang sangat khusus. (sumber: www.rovicky.wordpress.com)

Pukul 21.00 WIB kami para jamaah asal Wates tiba di Masjid Agung, diterimaNaveen secara resmi oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo S. Dipo. Suasana meriah karena setiap jamaah penjemputnya bisa sekampung. Cuma saya dan istri, barangkali, yang menjemput hanya anak, menantu, cucu (3 orang). Tatkala rasa kangen yang sudah meluap itu saya tumpahkan ke Naveen, 9 bulan, cucuku, eh ia malah nangis emoh digendong. Juga ketika istri saya berusaha menggendongnya pula. Barangkali penampilan kami berdua memang masih “berantakan” ya? (Tamat)


About this entry