SERTIFIKAT HAJI?

Pengajian rutin di halaman Masjid HaramRabu 2 Jan 2008. Hari dimulai dengan bersubuhan di Haram, lalu pengajian KBIH Aisiyah di halaman Haram, membahas soal Thowaf Wada’ (perpisahan). Untuk soal ini ustadz Fatur perlu kontak seniornya, Yunahar Ilyas, pengurus PP Majlis Tarjih Muhamadiyah, di Yogya. Karena menurut keputusan majlis tarjih, thowaf ini hukumnya sunah.Tetapi di buku “Haji Umrah & Ziarah” yang diterbitkan pemerintah Arab Saudi, thowaf ini wajib, kecuali buat perempuan yang sedang haid. Kalau orang sakit, tua & lemah bagaimana? Fatur memberi solusi, bagi golongan terakhir ini bila merasa was-was ya bayar dam saja di sini seharga seekor kambing (380 rial). Selesai. Ketika itu muncul isu bahwa beredar sertifikat haji mabrur yang dikeluarkan okeh maktab & ditandatangani para imam di Mekah, Fatkhur langsung menyebut, siapa yang sudah memperoleh sertifikat ini dengan membayar 10 rial itu orang bahlul! “Kalau sertifikat itu ditandatangani malaikat Jibril, baru semua saya anjurkan miliki sertifikat ini. Semua urusan haji ini di mata maktab adalah dagang,” ujarnya. Seperti hukum dagang, dimana ada permintaan pasti ada penawaran. Jadi, masih adakah jemaah KBIH ‘Aisiyah yang meminta sertifikat? Masyaallah.

Videocam Sony ala CinaSiang hari saya minta tolong mas H.Andar, karom 5 yang sudah hafal lika-liku perdagangan Pasar Seng, untuk membelikan videocam Sony (buatan Cina), yang harganya menantang: 500rial. Plus memori stick Scandisk 2G 100 rial. Spesifikasinya 9in1. Lumayan buat oleh-oleh. Soalnya sesudah thowaf wada’ tak boleh lagi belanja. (Nah, ini yang perlu saya sampaikan ke mas H.Andar, juga kepada teman-teman haji yang sama-sama membeli ini, ternyata videocam saya buatan Cina itu umurnya sejengkal, dua bulan sesudah berada di kampung halaman barang tersebut macet, entah batere atawa chargernya yang terganggu. Yang jelas nya dicari di Yogya susaaah banget. Terpaksalah barang itu sekarang jadi kenangan).

Kami merencanakan thowaf ini Jum’at sesudah subuh, karena pukul 16.00 sudah harus meninggalkan Mekah ke Jedah. Sementara koper besar sudah harus siap di lobi, krn akan ditimbang, sebelum pukul 12 siang (Kamis,3/1). Pada maghrib & isya kami (saya & istri, Hoddin & istri) berjamaah di Haram. Kami sengaja mengambil tempat di lantai 2 yang bila ditarik garis lurus ke Ka’bah persis di Multazam (area antara Hajar Aswad & pintu Ka’bah, tempat di mana doa-doa yang dilantunkan bakal dikabulkan Allah SWT). Kami menempatkan diri paling depan, sehingga nampak jelas situasi Ka’bah menjelang sholat maghrib & isya dilaksanakan. Ternyata setengah jam sebelum sholat jamaahSekitar Ka’bah menjelang shalat jamaah dimulai daerah sekeliling Ka’bah disterilkan dari orang-orang berthowaf. Hajar Aswad di blok oleh beberapa askar kerajaan. Dinding Ka’bah mulai dari rukun Yamani hingga Hijir Ismail dibersihkan dari bekas usapan tangan para jamaah. Mikropon dan mighrab (berupa sajadah) untuk imam dipersiapkan di depan Ka’bah, tepatnya di sebelah kanan pintu Ka’bah. Begitu azan dikumandangkan orang-orang yang berthowaf langsung berhenti, membentuk saf mengitari & menghadap Ka’bah. Seusai sholat, selama musim haji, selalu saja ada shalat jenazah. Nah, ketika shalat jenazah berlangsung di manakah jasad-jasad itu (bisa puluhan jumlahnya) diletakkan?

Ternyata begitu usai uluk salam sholat jamaah 5 waktu, sang imam dengan dikawal para askar langsung bergegas menuju ke dekat pintu utama (paling luar area thowaf) di mana jenazah berada di atas keranda tanpa kaki diletakkan berjejer di lantai. Lalu imam menghadap Ka’bah di depan jenazah itu memimpin sholat. Jadi, ada jamaah yang menjadi makmum sholat jenazah tapi berdiri di depan dan membelakangi imam & jenazah hingga ke saf-saf yang mendekati Ka’bah, karena putaran orang thowaf sudah ada tapi masih dalam pusaran kecil. Meski demikian Hajar Aswad sudah dikerubuti jamaah untuk diciumi. Dan masih saja ada orang yang melempar topi, kain agar bisa menyentuh dinding Ka’bah. Masyaallah.

Kamis, 3 Jan 2008. Semakin dekat dengan perpisahan Baitullah, saya & istri berusaha lebih intens berjamaah di Haram. Sesudah subuhan, Kamis, kami berdua thowaf di lantai 1 agar lebih dekat dengan Ka’bah. Dua hari lalu saya thowaf di lantai 2, longgar sehingga lebih khusuk. Kali ini kami thowaf dengan pasrah, sabar, karena pasti ada godaan. Misalnya, baru putaran keempat berjalan tiba-tiba ada seseorang (warga negara lain) yang memarahi agar mencopot masker yang saya gunakan. Padahal saya sedang tidak memakai pakaian ihram. Dan saya memang sedang batuk, serta dikungkungi alergi udara dingin. Kata ustadz Fatur, kalau memang alasan kesehatan pakai masker di kala berpakaian ihram pun tak apa. Dr Abdullah bin Hamd as-Sakakir dalam bukunyaBuku Fiqih Haji “Nawazil al-Hajj” (Fiqih Haji Kontemporer) menulis, “…kita nyatakan bahwa orang yang berihram boleh menutupi wajahnya. Jika menjawab kedua pertanyaan ini maka jawabannya adalah masker yang dikenakan pada wajah bukanlah termasuk jenis kain yang dijahit yang dilarang oleh Rasullullah SAW. Lebih tegas lagi kita bisa mengatakan bahwa tidak masalah bila orang yang berihram mengenakan masker yang dikenakan pada hidung dan mulut untuk melindungi dari debu, asap dan lain sebagainya.” (Samodra Ilmu, hal 51). Oleh karena itu saya tidak menanggapi kemarahan orang yang tak saya kenal tersebut. Saya hanya beristigfar. Mohon ampun kepada Allah kalau itu sebuah kealpaan.

Saya bermaskerDan ketika putaran ketuju usai, selagi saya menepi mencari tempat untuk sholat sunah 2 rakaat di belakang Maqom Ibrahim, tiba-tiba ada seorang yang berihram dan berjenggot memarahi saya tanpa saya tahu apa kesalahannya. Saya hanya menjawab:”Haji, bersabarlah!” Eh, ia malah ngomél-ngomel yang saya tak tahu maksudnya (tak tahu bahasa apa pula itu). Yang pasti ia manusia, bukan malaikat. Sekali lagi saya ngelus dodo dan beristigfar. Seusai sholat sunah, sebelum meminum air zamzam, saya sempat melirik ke arloji saya: pukul 7.30. Kalau tadi saya mulai thowaf pukul 6.15 berarti waktu yang kami gunakan untuk thowaf 1 jam 15 menit. (Kala saya thowaf di lantai 2 waktu yang kami butuhkan 1,5 jam. Jadi selisihnya tak banyak).

Jum’at, 4 Jan 2008. Kami,regu 4, akhirnya berangkat ke Haram bukan bersama rombongan 3. Meski di pintu oleh Karom 3 ditempel pengumuman kalau rombongan 3 akan bersama melaksanakan thowaf wada’ (perpisahan) sesudah subuhan, berangkat pukul 4 pagg dari maktab. Tetapi kata karu kami, lha karomnya saja pukul 3.15 sudah berangkat. Lo kok bisa? (Bisa buat pengumuman tapi kok berangkat duluan). Barangkali beliau lupa.Astagfirullah. Ini pula salah satu kelemahan rombongan 3. Beberapa kali bikin janji untuk bersama ketemu di Haram (misalnya, dulu ketika akan Umroh yangSarapan bersama pertama juga begitu, berakibat regu kami jln sendiri, tertatih-tatih). Alhamdulillah, kami berthowaf di lantai 2 mulai pukul 6.15 usai pukul 8 (1 jam 45 menit). Tanpa ketemu ka-rom. Kami langsung pulang ke maktab, soalnya sudah tak boleh lagi belanja, pesan ustadz Fatur. Beruntung orang-orang Madura yang berjualan makanan Indonesia masih ada & lengkap jualannya. Saya bersyukur masih dapat sotong (cumi, salah satu makanan kegemaran saya), peyek kacang, kacang hijau, semua 1 real. O ya ketan+kacang tolo+parutan kelapa. Alhamdulillah, betapa nikmatnya.


About this entry