HAJI TAMATUK

Bersama Besan di HaramSabtu 29 Des 2007. Saya,istri & bu Pujo subuhan ke Haram. Pak Hoddin & istri, pak Sugeng sudah berangkat duluan. Seperti biasa sesudah subuh ada pengajian ‘Aisiyah di halaman luar Haram. Pengajian kali ini diisi ustadz Fatur. Intinya, ia mengingatkan kita untuk berintrospeksi akibat musibah yang bertubi-tubi melanda Tanah Air (tanah longsor di Tawangmangu meninggal 65 orang yang sudah dievakuasi 40an orang), kali Bengawan Solo meluap, Solo, Ngawi banjir, gempa di Bengkulu, hujan angin & banjir di beberapa bagian kota Yogya, Jakarta juga. Fatur mengingatkan isi khotbah sholat Istisqo beberapa waktu di Haram, bahwa bencana bukan semata gejala alam semata, tapi juga karena peringatan Allah SWT.”Saya masih ingat pada 29 Des 2004 saat saya berada di pesawat sedang tinggal landas dari Donohudan menuju Jedah, musibah tsunami datang di Aceh,” tutur Fatur. Ya Allah semoga bencana tidak terus mendera tanah air tercinta.

Di akhir pengajian pak Kamiran mengumumkan, bagi jamaah yang masih muda & kuatSesama eyang bertemu bila ingin mendaki bukit Jamal Nur, tempat Gua Hira berada, tempat Nabi menerima wahyu pertama (Iqro), disediakan waktu Ahad besok. Wah, kalau melihat medan, kalau bukan pendaki jangan coba-coba. Orang-orang Arab yang terbiasa hidup dalam lingkungan bukit cadas barangkali dengan mudah mampu mendakinya. Seperti pemandangan yang nampak setiap malam tatkala kami mau melempar jumarat. Hampir di pinggir jalan yang kita lalui bukit-bukit cadas tinggi kita temui. Dan mereka, orang-orang Arab yang berpakaian gamis ini, dengan mudah mendaki menuju puncaknya (meski puncak itu belum seberapa dibanding bukit Hira). Di puncak itu yang nampak sebagian dari bawah adalah tempat terbuka yang tak bagitu luas. Barangkali itu tempat berdoa mereka agar lebih khusuk? Wallahu’alam. Pak Fatur sendiri, sambil bercanda, menyebut, hanya orang-orang bodoh yang mau mendaki bukit itu kini.

Jamaah mludak di luar mushalaAhad, 30 Des 2007. Selain shalat berjamaah status kami masih sebagai haji tamatu’ (tangi mangan turu tur batuk). Di depan maktab ada mushala yang selalu terisi penuh digunakan untuk berjamaah. Tapi kini karena sebagian jamaah sudah ada yang pulang ke Indonesia, juga ada sebagian lagi yang berangkat ke Madinah, maka isi mushala pun longgar. Saya coba sendirian bersubuhan di sini. Pak karu sudah sejak pukul 3 pagi berangkat ke Haram. Dua roomate saya masih tiduran. Mushala itu berkarpet merah, ada 12 kipas angin dipasang berjajar di dinding yang memanjang. Masing-masing dinding terpasang 5 AC (model lama) tapi ternyata yang nyala cuma 1. Jemaah terbanyak dari Turki, Kazakhtan, Kirgikistan (hotel mereka tepat berada di depan mushala) sedang dari Indonesia sekitar 20an orang (tapi ketika sholat Isya Ahad malam kurang dari 10 org). Mushala itu luasnya sekitar 10×25Ruang dalam mushala depan maktab meter kapasitasnya dapat menampung sekitar 256 orang (1 saf 16 org x 16 saf). Ketika jamaah masih lengkap sering meluber ke trotoar. Pengaturan muadzin maupun imamnya luwes. Di awal kami datang kadang Drs H. Ngatemin (kloter 30 dari Gn.Kidul jadi muadzin, karene suaranya memang bagus). Kala saya berjamaah subuh muadzin & imamnya dirangkap orang Arab hitam. Kala isya orang tersebut jadi muadzin sedang imamnya ada orang Arab yg lain.

Senin,31 Des 2007. Meski para jamaah yang mendatangi masjid Haram banyak, tetapi subuhan kali ini saya & istri dengan mudah memperoleh tempat di lantai 2. Alhamdulillah. Tak seperti hari-hari sebelumnya, banyak saf yang longgar. Banyak jamaah yang sudah meninggalkan Mekah. Jamaah kloter 45 (dan beberapa kloter gelombang 2) malam tadi berangkat ke Mekah. Sedang jamaah dari kloter gelombang 1 awal sudah ada yang pulang ke Indonesia (termasuk kloter 18 SOC yang membawa besan saya, nanti malam pukul 20 terbang dengan GA dari Jedah ke Solo). Meski jamaahnya sudah banyak berkurang tapi jenazah yang disholatkan tak juga surut, masih puluhan orang. Setiap usai berjamaah shalat wajib, selalu ada shalat jenazah. Inna lillahi wa ina ilaihi rojiun. (Begitu pula ketika saya berjamaah di Masjid Nabawi, Madinah).Menyelusuri lorong mencari buku
Sepulang dari masjid saya selusuri toko-toko buku yang ada di sekitar Haram, mencari peta/map Mekah & Madinah, titipan Ahmad Luqman, sahabat saya yang pada 2003 membuat komik panduan + peta masjid Haram. Hasilnya, nihil. Tak satupun yang jual. Lantas saya kontak pak Fatur minta ditunjukkan tempatnya. Beliau berjanji akan membelikan dulu harganya sekitar 20rial, nanti akan saya ganti.

Selasa 1 Jan 2008. Teman-teman dari tanah air mengirim ucapan selamat tahun baru 2008. Dan saya balas ucapan itu dengan puisi:
Tak ada tahun baru di sini. Apalagi kembang api & dentang jam 12 kali. Hanya ada puluhan jazad disemayamkan di rumahMu. Dan jutaan orang mengirimi doa menuju titik tak berbatas. Abadi. Dalam diam dan sunyi,di sini, kutuntaskan rindu padaMU. Allahu Akbar! Ketika aku mengitarimu dengan ramal, gelombang orang menghempaskanku pada ruang, tempat aku menemuiMu. Mengapa Kau lepas aku dari waktu? Waktu tak lagi berarti bila datang mati.


About this entry