MELANGKAH KE LANGIT

Sudah di lantai berapakah engkau mendaki besi yang suka menjulurkan lidahnya. Mengira langit berada di tengkuknya. Dan sepasang tangan yang menggapai ruang. Mengulurkan salam. Dari ruas jarinya suara ketukan perlahan.

Dari senyawa oksigen yang menyandera awan. Kau bilang, di sini akan dibangun menara beraturan. Ujung atap menonjok langit. Ujung tanah menatap gelisah. Lantas siapakah yang menahan goda hujan dan seringai angin malam?

Semisal aku ada bisa seketika jadi tak ada. Meski pernah ada dan dicatat seperlunya.


About this entry