LIMA DASAR BUKAN PILAR

Ia dasar bukan pilar. Ia fundamen bukan sekedar tiang dari semen. Mahkamah*) sudah menegaskan: dari kajian universitas tua yang sejak muda paham lima dasar itu. Ia adalah philosophische grondslag, dasar filsafat, kata Bung Karno. Ia dasar jangan kau sebut pilar.

1. Tuhan satu.
Bukan hantu yg menuhankan waktu. Melipatnya dalam saku yg tak kau tahu Tuhan tahu karena ia pemilik waktu. Satu tak terbelah oleh imamah manusia pongah. Manusia yang lupa pada liyan. Padahal ia punya Tuhan yang sama. Di tempat pijak dan hirup udara sama.

Tuhan satu. Dia menyatukan bukan mencerai-beraikan. Dia tak membedakan meski kita bermula beda.

2.Manusia adil. Manusia beradab.
Menakar semua dengan imbang. Berat sama dijinjing ringan sama dipikul. Dengan tatanan yang memanusiakan bukan yang menghewankan. Bukan untung-rugi yang didewakan. Tapi penghormatan sesama yang dibumikan.

Ojo dumeh.

3.Menyatukan mengindonesiakan. Menusantarakan.
Bangsaku itu terdiri dari ribuan pulau, ribuan suku. Ribuan bahasa menyatu. Menjadi pandu anak cucu. Bahasa ibu? Biarkan ia ada agar menguatkan kita, meski kita berbeda-beda. Karena berbeda itu kita ada.

Bhineka tunggal ika.

4.Musyawarah mufakat.
Dalam rumusan rakyat yang berdaulat. Mufakat adalah jalan pengikat. Dalam ikatan kita senantiasa dikuatkan. Bukan kemenangan yang menihilkan. Bukan keangkuhan yang menistakan.

Tapi semua diwakilkan. Suara rakyat suara Tuhan. Tapi mengapa diperjualbelikan. Dengan harga murah. Tuhan pun marah. Ia ditukar kursi. Atau sapi. Atau fustun. Sebab hutang kian berjimbun. Tiga ribu triliun rupiah. Lalu bisakah anak cucu membayar itu?

Musyawarah sering ditukar arah. Dari arah fajar barisan amplop mengetuk setiap pintu rumah. Lalu suara-suara itu menyerah. Mengisi setiap celah yang berhulu serakah.

5.Adil sosial.
Adil adalah setara. Tidak memperlakukan manusia lain beda. Tidak membeda-bedakan. Tidak mengurangi dan mencurangi hak orang lain.

Adil adalah laku, panutan. Ing ngarso sung tulodo. Bukan sekedar hitung-hitungan kalah menang. Bukan egois atau individualistis. Bukan mata duitis atawa materialistis.

Adil adalah distributif. Negara wajib memenuhi keadilan rakyat yang dinaungi. Yang kuat melindungi yang lemah.

Adil bukan ratu
Adil adalah laku
Perilaku.

*) Mahkamah Konsitusi RI Putusan Nomor 1000/PUU-IX/2013


About this entry