PERCUMBUANKU DENGAN KOPI

Kau bilang menyesakkan mendengar kisahku menengarai puisi dan menyangrai biji gelap bak sesaji.Sejak itu aku mengingatkanmu kalau rindu bisa pecah dari butir-butir goda dan seketika memahitkanmu. Atau kau pilih rasa asam di lambungmu yg basah dari sekumpulan kata gelisah. Karena itu perkenankan aku menyeduhmu di sebuah cangkir dan membiarkan krema menari di permukaanmu. Dan cemburu tak berhenti di tikungan kopimu. Tapi jangan sesatkan aku ketika memilihmu dan mencumbumu dengan bibir gemetar dari sebutir kopi yg setia menyertai pagi.


About this entry