SEKUJUR BENDERA LUSUH BERANGAN BEBAS DARI KELUH

Angin beringsut dari dingin lalu mencengkeram tengkukmu yg dikelola bayang. Sepotong kain yg menyembunyikan dahi, menulis namanya dengan kata dengki. Nama itu menakar segala rupa yg menyalurkan petaka. Bukan Adam karena ia bukan yang pertama punya dendam.

Kalau tubuhmu mulai lusuh dan dadamu terdengar rusuh. Itu detak yang bergerak melampaui pendulum. Dari waktu yang mengiris usia. Tapi menolak renta. Ia seperti Destarastra yang menemu diri.


About this entry