TAK ADA LAGI PERCAKAPAN MENEBAK, SUARA ATAU CUACA MEREBAK

Kidung yang dinyalakan garengpung mulai meredup. Cuaca membakar iring-iringan kabut. Kakinya menjejak tanah tanpa menimbulkan basah. Sepanjang jalan hanya tengadah.

Sebagaimana Salya ia patah oleh putih jiwa, Yudistira. Tak ada aroma semerbak ketika cuaca menulis namanya.  Ia mungkin Narasoma yang diam-diam khianat pada Kurawa.

Atau mungkin bukan siapa-siapa ketika kemarau tiba. Tatkala musim melaju kencang dan berhenti di titik lengang. Dan panah dari kereta itu menyilang karena tubuh kau guncang.

Tapi ini bukan jual beli budi. Atau tragedi yang bertali mati. Ini soal percakapan yang hilang di perempatan. Tak ada suara. Lenyap dalam cuaca.


About this entry