DIAM

Seperti sudah dibilang siang, meski wajahmu redup tak berarti angin enggan bertiup. Bisa saja ia sedang mengincarmu dari sudut yg tak ada di kepalamu. Bisa saja ia ingin mengejutkanmu dengan kenangan yg lucu.

Setiap lembar kritikan yg kau tulis -sering kau menyebutnya canda ringan yg penuh kata tikam- berbau wangi yg tak beringsut berhari-hari. Bila kau luka tanda itu semakin semerbak dan aku menebaknya: “Hai rindu sudah kian mencekamkah waktu?”

Kau hanya menggeleng dua kali. Seperti sudah dibilang cekam, biarkan cemas tenggelam dalam lubuk diam. Biarkan itu berulang.

Yogya 20 April 2013


About this entry