SEORANG PENYAIR MEMBACA BIR

kepada Agus Noor

Seorang penyair membaca bir berpuluh teguk menenggelamkan kata di sebuah bibir luka. Di peta itu petunjuk mengaku. Aku bukan bagian dari dukamu.

Seorang penyair menebar wangi di ruang berdentam suara riang. Bibir-bibir merah berkelebat. “Satu untuk cap puisi. Siapa mau?” Penyair itu membagi ciuman di halaman puisinya dengan tertawa.

Lalu satu-satu perempuan bermata lentik membaca mata penyair yg digenangi bir. Suaranya menukik mengisi ceruk kata yg berserak. Lihat, puisi itu bergerak, menyanyi dengan suara serak. Mengajak tepuk sorak.

Penyair yg rambut panjangnya bermata kaca itu terus menyebar ciumannya sambil suara cuwat-cuwit melangkahi malam. Pagi belum juga pergi.

Yogya, 21 Nopember 2012


About this entry