LANGIT SEMAKIN SULIT MENGEJA NAMANYA

Mungkin semula namanya mendung. Namun lama ia tertegun. Tak bisa paksa hujan turun. Ia pun menawar sedikit gerimis. Bahkan dengan tangis. Tapi air itupun hanya menderasi pipi. Bukan selokan di latar langitmu.

Lalu ia ubah namanya kabut. Tapi selalu salah sebut: mega, awan, atau serabut yg saling pagut. Gumpalan ragu berarak di kaki langitmu suntuk.

Lalu ia mengalah namanya pasrah. Tergantung matahari menyeka hari di kaki atau dahi. Membiarkan guruh bangunkan subuh. Hingga langit gamang bertemu siang. Tiba-tiba senja mengajaknya pulang.

Ia semakin menjauhi namanya. Kata tak mampu menyandera. Tanda kehilangan langkahnya. Terpuruk di antara senja dan pagi buta. Sulit dieja.


About this entry