PEMAKAMAN PUN DIBISNISKAN

Pemakaman Ma’laSelasa,25 Des 2007. Semalaman saya batuk terus menerus menyebabkan saya kurang tidur. Rencana sholat berjamaah di Haram saya tunda, kami hanya berjamaah di maktab, tepatnya mushala depan maktab, sambil memulihkan kondisi.
Rabu 26 Des 2007. Inna lillahi wa ina ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia ibu Tri Moentiah (72), ibunda drs Giri Wiyono, MT, dosen teknik sipil, Universitas Negeri Yogyakarta. Alhamdulillah beliau sudah selesai menjalankan rukun & kewajiban haji. Semoga beliau memperoleh ampunanNya & tempat layak di sisiNya. Amin.

Pengajian di halaman Haram Bakda zuhur jenazah beliau dishalatkan di Masjid Haram. Kata pak Samin, karom 2, bila jenazah dishalatkan oleh 40 ahli agama maka yang bersangkutan pasti memperoleh kemuliaan di sisi Allah. “Dari sekian ratus ribu orang jemaah zuhur di Haram pastilah yang ahli agama lebih dari 40 org,”komentar pak Fatur. Karena itu pengajian KBIH AisiyAh Rabu pagi di lantai 16 maktab 71, yang seharusnya dipimpin oleh ustadz Fatur (karena harus ngurus prosesi jenazah ibu Moentiah, asal Bantul kloter 30 rom 9) diganti pak Samin ka-rom 2. Ternyata tidak semua jamaah haji yang wafat di Mekah bisa dishalatkan di Masjidil Haram.

Sketsa HajiMenurut DR.H.M.Saerozi, dosen STAIN Salatiga, “Sebenarnya keluarga dan petugas dapat mengupayakan agar jenazah dishalatkan di Masjidil haram, namun dengan beberapa syarat. Pertama, membayar ongkos ambulan yang membawanya ke Masjidil Haram dan pemakaman. Kedua, membayar jasa pemikul jenazah pulang-pergi dari ambulan di halaman Masjidil haram sampai ke hijir Ismail yang berdekatan dengan Ka’bah (Sketsa Haji,Titian Wacana, 2004). Beberapa orang di kompleks Ma’la biasanya menawarkan jasa untuk menyalatkan jenazah di Masjidil Haram. Biaya yang ditawarkan biasanya antara 1500-2500 rial. Biaya sejumlah itu harus ditawar dengan serius, sebab terlalu mahal. “Tetapi itu sebenarnya ulah pengurus maktab yang menawarkan jasa H. Giri Wiyonotapi meminta imbalan. Karena sebenarnya pihak Kerajaan Arab Saudi melayani hal itu, seperti ambulance dari rumah sakit, gratis,” tutur pak Giri. Apalagi pak Fatur yang fasih berbahasa Arab mampu meniadakan peluang orang yang mencari uang dari kedukaan jamaah, tamu Allah. “Saya hanya memberi tip kepada sopir ambulance saja, serela saya,” tambah H. Giri.

Kamis,27 Des 2007. Sesudah maghrib (sholat Isya dijamak taqdim dengan maghrib) diselenggarakan umroh sunah bagi para jamaah yang berminat. Pagi hari mas Dul, kakak saya yang berada di kloter 41 SOC, kalau pagi tadi sesudah subuh mengumrohkan almarhumah ibu. “Kalau kondisi tubuh belum fit sebaiknya tidak berumroh sekarang,”katanya. Karena sangat penuh. “Seusai berhaji orang yang berumroh sudah tidak sabaran lagi,” komentar pak Kasto, teman serombongan saya ketika bersama di lift maktab. Karena kondisi tubuh saya yang belum membaik saya (kebetulan istri saya juga drop kondisinya) kami memutuskan tidak ikut umroh. Menurut KBIH ‘Aisyiyah masih ada umroh sunah sekali lagi. Umroh malam ini (dalam regu saya hanya diikuti karu+istrinya) bermiqat dari masjid Tan’im, sekitar 6 km dari Aziziyah. Tidak dikutipBekal Bagi Jamaah haji biaya. Tapi bagi rombongan lain yang uang iuran rombongan yang ketika di Donohudan masing-masing jamaah dikutip 50 real dan sekarang habis, diminta urunan 10 real/orang. Soal umroh sunah ini nampaknya banyak para jamaah berlomba-lomba melakukannya. Tatkala saya baru datang dari Madinah, di maktab ketemu dengan jamaah asal Jabar, mereka mengatakan sudah sempat umroh 3-5 kali. Padahal dalam buku “Bekal Bagi Jamaah Haji” yang disusun oleh Kantor Kerjasama Da’wah, Bimbingan dan Penyuluhan Bagi Pendatang, Al-sulay, Riyadh, dan dibagikan gratis kepada para jamaah “Memperbanyak umrah setelah menunaikan haji, dari Tan’im atau Ja’ronah, adalah hal yang tidak ada dalilnya.” (hal 46).Masjid “Kucing” Buchori

Jum’at 28 Des 2007. Mulai saat ini saya harus memilah barang-barang mana yang akan ditinggal & mana yang dibawa pulang. Barang-barang atau oleh-oleh yang akan dikirim via Garuda Cargo ke tanah air minimal beratnya 20 kg (ongkosnya 10 real/kg). Jadi saya sepakat dengan teman seregu agar barang-barang itu dijadikan satu biar ngumpul 20 kg. Saya pun berupaya membeli karpet 3×2 meter seharga 140 real + 1,8×2 mtr 60 real. Ternyata barang karu pun sdh melebihi 20 kg, terpaksa barang-barang saya packing sendiri. Sesudah saya sortir ulang hasilnya 27 kg yang kami muat dalam tas plastik besar buatan China seharga 5 real. Sesudah saya usai mengepak+ menuliskan alamat tujuan (kami alamatkan ke rumah adik di kota Yogya biar lebih cepat dibanding Wates) saya telpon petugas cargo, pak Hidayat (no.tlp tercantum di papan informasi maktab). Karena menjelang jum’atan ia masih di maktab yang lain, saya mohon barang saya ditimbang dan diambil setelah jum’atan saja. Pukul 10 kami (bapak-bapak berempat seregu) menuju Haram. Suasana jum’atan di mesjid Haram kami perkirakan sangat penuh. Beruntung kami berangkat lebih awal hingga dapat berada di lantai 2 tempat Sa’i yang baru dan belum digunakan bersa’i. Isi khotbah membahas soal salam dalam Islam. Bagaimana seyogyanya orang Islam sedunia ini memperlakukan salam sebagai tanda persaudaraan. Ya, saya merasakan uluk salam antar muslim di Haram jarang saya temukan. Yang ada pada main sruduk sana-sini, apalagi polah para saudara kita muslim yang berbadan besar untuk cari tempat shalat. Meski diberi tahu sudah penuh bahkan sesak di lajur sholat, tetep saja mereka ngéyél, tanpa merasa bersalah. Tubuhnya yang tinggi, besar (bisa hitam-atau putih kulitnya) main menang-menangan di Haram. Sama sekali tak terasa adab islam. Kalau mau dapat tempat sholat di depan ya datanglah lebih awal. Begitu kan etikanya?

Menjelang umrohSepulang jum’atan ternyata bis antar jemput ke Aziziyah cuma satu-dua. Padahal jamaah ratusan ribu sudah menanti di terminal. Akhirnya tanpa komando para jemaah bergerak menuju terowongan (tmp biasanya bis2 berlalu-lalang), memadati pedestrian road tunnel (lorong jalan untuk pejalan kaki) sehingga bis yang satu-dua itu susah masuk, beringsut jalannya. Ternyata benar, masih banyak haji-haji yang pemarah. Mereka, terutama daro negara lain, menggebrak bis, memarahi supir, meminta dibukain pintu. Padahal yang jalan kaki juga banyak. Jemaah Indonesia nampaknya paling pasrah. Alhamdulillah. Sore pak Hidayat (petugas cargo) menelpon saya kalau ia sudah di lobi maktab 714. Karena ia dilarang petugas maktab naik maka saya ngalahi turun membawa barang-barang saya via lift dara lantai 10 ke ground floor (lobi). Sesudah ditimbang beratnya 27 kg ongkosnya 8 rial/kg (total 216 real). Padahal pak Hoddin, karu kami, kemarin kirim brg 37 kg, 9 real/kg. Apakah menjelang kepulangan ongkosnya semakin menurun? Baru pd pkl 21.00 barang saya diangkut mobil cargo mereka. Semoga 2 minggu bisa sampai Yogyakarta. Amin.


About this entry