WAJAHMU MEMUKAU DI UJUNG KEMARAU

image

Saban waktu kucatat rindumu pada hujan. Di persimpangan ujung kemarau tatkala jalan mulai terkulai basah. Ia bisa menyesatkan kalau indramu tak terasah.

Takkan bosan aku menungguimu sejak gerimis tak lagi berdetak ritmis. Sejak cuaca sering berganti rupa sesukanya. Sejak suara parau menghalau kemarau. Hujan ragu mengendap. Ia sering tergagap.

Akan datangkah hujan yg dulu kukangeni karena selalu datang menyelinap. Menaruh selesma di tubuhku hingga ibu tak lekang menunggu. Di bawah daun pisang menyusuri pematang. Menggigilkan malam mengigaukan siang.

Sejak itu selalu kucatat kangenku pada kemarau karena hujan tak setiap saat datang. Meski sekian payung dan jas hujan sudah disiapkan. Hingga pelepah daun pisang sudah dilupakan. Ditanggalkan di pematang sendirian.

Wates 4 Oktober 2012


About this entry