ANTARA BAQI DAN MA’ALA


SENIN 10 Des 2007. Sesudah subuh kami mengikuti pengajian ustadz Faturohman Kamal di halaman luar pintu masuk Masjidil Haram. Saya sengaja minta no.hp pak Fatur & pak Kamiran karena saya merasa kurang mendapat info tentang kegiatan Rombongan 3. Misalnya, soal titip beli Al Qur’an di Percetakan Al Qur’an yang katanya akan dibelikan bila tak sempat beli ternyata waktunya cuma dibatasi sehari. Dan saya baru tahu ketika ketua rombongan 5 Andar Jumalian menginformasikan hal itu kepada saya. Sayang, padahal saya ingin punya Qur’an gede yang harganya cuma 60 rial, sedang di toko buku di Pasar Seng harganya mencapai 150 rial.


Seusai pengajian jamaah KBIH Aisiyah menuju Ma’ala, makam istri Nabi SAW, Siti Chotijah r.a. Salah satu keistimewaan makam ini adalah seluruh lembah pemakaman menghadap Ka’bah. Perjalanan menuju makam ditempuh dengan jalan kaki, melewati Pasar Seng, juga Masjid Kucing atau masjid perawi hadis Nabi SAW, Abi Hurairah, yang dikenal sangat menyayangi kucing.
Makam Siti Chotijah r.a. ada di paling ujung di ketinggian bukit kecil. Makam beliau dikelilingi tembok setinggi 3 meter, ditemboknya dipasangi teralis besi bercat hijau. Setiap pengunjung (diatur masuk satu-satu) sehingga dapat melihat makam tersebut melalui celah teralis. Makamnya di pinggir luarnya diberi tembok pembatas setinggi sekitar 20 cm. Di dalam pembatas luar ada pembatas makam beliau yg juga dibatasi tembok putih setinggi sekitar 5 cm. Di bawah makam beliau adalah tempat pemakaman umum yg terbagi dua: kanan permanen & kiri sementara. Yakni setiap jasad dimasukkan ke lobang kubur (yg dpt diisi 2 tingkat, terus ditimbun jerami, lalu tanah, baru kemudian ditutup beton yg ada kait pengangkatnya). Dalam periode tertentu (setahun?) jenazah diganti dengan jenazah baru. Karena ituSuasana Ma’ala makam tsb baunya agak menusuk hidung. “Beda dengan makam Baqi,” kata Andar, “Kalau di Baqi jenazah dimasukkan lobang, lalu disimpan di lorong sehingga tak bersentuhan lansung dg tanah”. Di makam, baik baqi atau Ma’ala, perempuan tidak boleh masuk. Para ibu hanya bisa menunggu di aula yg sudah disediakan di ruang depan. Di Arab Saudi berlaku ketentuan bahwa perempuan dilarang melakukan ziarah kubur.
Usai dari Ma’ala, Ustadz Kamiran Komar di depan Ma’ala menunjuk posisi masjid Jin yg terletak persis di ujung hotel depan makam (dindingnya marmer warna coklat). Hampir pukul sepuluh kami usai berziarah, perut belum terisi makanan. Karena itu sambil jalan menuju pulang kami (hanya saya & istri, anggota regu kami yg lain tak ikut berziarah) membeli sepotong roti buat berdua dan 2 kopi susu semuanya 5 rial dan cukup mengenyangkan. Sesudah asarapan ala kadarnya kami melewati Pasar Seng, saya membeli buku “Sejarah Mekah” & “Sejarah “Madinah” masing seharga 15 rial.
Sampai di maktab kami beli pisang 2kg (10 rial) dan roti 2 rial. Pisang cavendish (ambon), kata orang, bila sehari makan dua buah saja sudah cukup untuk menjaga tekanan darah melonjak (bagi yg hiopertensi). Makan siang bersama baru pkl 14.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Rencana semula berjamaah di Masjid Haram pada saat asyar, maghrib, isya diubah hanya magrib dan isya saja. Sesudah asyar berjamaah di musala depan maktab kami (lengkap seregu) berangkat ke Haram pukul 15.30. Tapi ternyata sudah penuh, terus menuju lantai 3 pun penuh, berdesakan. Tempatnya terbuka, berangin sejuk, matahari tak lagi meyorot tajam. Dari atas ternyata pemandangan thowaf membuat perasaan saya bergetar.
Suasana thowaf di sekeliling Ka’bah Ribuan orang bergerak serempak mengelilingi Ka’bah, berlawanan dengan arah jarum jam, dari lantai 3 rapi tampaknya, tapi kalau melakoninya sendiri ternyata penuh perjuangan. Berjuang untuk tak terpental ditabrak jemaah lain. Berjuang untuk khusuk, karena banyak jemaah berdoa dengan suara dikeraskan. Berjuang untuk pasrah dan tidak gampang marah. Kadang saking bersemangatnya menabrak hak orang lain yg bersama beribadah. Egoisme beribadah tinggi, kadang malah tak terkendali.
Mencium Hajar Aswad? Dalam suasana yang begitu padat. Kami seregu ihlas kalau hanya bisa kiss bye saja. Toh itu sunah. Kata ustadz Fatchur, kalau mau ada juga orang-orang bayaran yg siap mengantar jamaah mencium Hajar Aswad. Tentu saja mereka mengawal jamaah dengan cara sikut sana-sikut sini. .
(Kalau ada nasehat selama berhaji beristirahatlah cukup dengan tidur 6-8 jam sehari, barangkali orang yg memberi nasehat kala berhaji amat santai. Soalnya, kalau salat berjamaah ke masjid Haram atau Nabawi saban malam. Dan setiap malam harus bangun pukul 2 pagi ke masjid agar memperoleh tempat, maka istirahat pun harus diirit. Hitungan 6-8 jam tidut tak lagi terpikirkan). (Lanjut ke posting berikutnya).


About this entry