CUCI TANGAN

Dulu sewaktu saya masih bersekolah rakyat (sekarang Sekolah Dasar) setiap main ke rumah kakek-nenek di sebuah kampung di Pekalongan, Jateng, saya selalu menemukan kendi di halaman rumah beliau. Kendi itu berisi wantah atau air bening dari sumur yg sudah dimasak dan siap diminum.
Kendi itu sengaja ditaruh di halaman agar setiap orang yg lewat dan kehausan boleh meminum air di kendi tersebut atau juga membasuh kaki atau tangan yg kotor. Tapi kepada saya yg sudah berada dalam rumahnya, pertanyaan pertama beliau selalu: “Wis wisuh, le?(Sudah membasuh tangan dan kaki, nak?). Ya, dari air kendi di depan rumah itu saya harus membasuh tangan dan kaki saya (baik berdebu atau tidak). Bukan untuk minum? Beliau sudah menyediakan minuman manis kesukaan saya di pawon (dapur).
Kisah masa kecil soal membasuh tangan ini muncul kembali ketika saya dirawat di RSJ Harapan kita Agustus lalu. Di rumah sakit itu di setiap pintu sebelah luar kamar periksa atau ruang perawatan selalu ada cairan pencuci tangan (di dalam sebuah alat yg tinggal dipencet, saya duga isinya sabun). Maksudnya, sebelum masuk ruangan cuci tangan anda dengan cairan di dalam alat itu. (Tapi jangan harap ditanya kakek-nenek saya, “Wis wisuh?” hehe).
Cuci tangan menjadi hal utama di sini. Ketika sekitar pukul 9 pagi saya tersadar dari masa lelap operasi, masih ICCU, sekonyong-konyong sahabat SMA dulu, Nick, nyelonong masuk ruang mau memotret dan menyalami saya. Para perawat langsung melarang Nick memotret (di ruang ICCU dilarang memotret pasien). Tapi menyalami saya boleh, cuma harus mencuci tangan dulu dengan pencuci tangan yg disediakan.
Di sini mencuci tangan bertujuan untuk melepaskan atau membunuh patogen mikroorganisme (kuman) dalam mencegah perpindahan mereka pada pasien. Penggunaan air saja dalam mencuci tangan tidak efektif untuk membersihkan kulit karena air terbukti tidak dapat melepaskan lemak, minyak, dan protein dimana zat-zat ini merupakan bagian dari kotoran organik.
Perkembangan materi pencuci tangan pun bergerak, mulai dari air saja, dengan sabun, alkohol, maupun antiseptik. Kemudian juga dikembangkan cairan pembersih tangan non alkohol. Namun, apabila tangan benar-benar dalam keadaan kotor, baik oleh tanah, darah, ataupun lainnya, maka penggunaan air dan sabun untuk mencuci tangan lebih disarankan. Karena cairan pencuci tangan, baik berbahan dasar alkohol maupun non alkohol, walau efektif membunuh kuman cairan ini tidak membersihkan tangan, ataupun membersihkan material organik lainnya.
Dalam perdebatan mana perilaku yang lebih efektif antara menggunakan cairan pembersih tangan atau mencuci tangan dengan sabun, Wallace Kelly, Infection Control R.N. (Paramedik untuk Pengendalian Infeksi) berpendapat bahwa keduanya efektif dalam membersihkan bakteria-bakteria tertentu. Namun cairan pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak efektif dalam membunuh bakteria yang lain seperti e-coli dan salmonela. Karena alkohol tidak menghancurkan spora-spora. Namun mencuci tangan dengan sabun spora-spora tersebut terbasuh dari tangan. Menurutnya metode terbaik adalah menentukan saat keadaan tidak memungkinkan untuk mengakses air dan sabun, maka cairan pencuci tangan jauh lebih baik daripada tidak menggunakan apapun.
Sebagai pasien saya juga mengamati beberapa hal berbeda. Untuk masuk ke ICU atau ruang intermediate pasca operasi di Harapan Kita tidak perlu pengunjung melepas sepatu/sandal dan memakai baju khusus yg disediakan. Tapi yg lebih penting harus cuci tangan (yg perangkatnya sudah disediakan). “Karena berdasar penelitian jumlah kuman terbanyak ada di tangan, bukan di sepatu/sandal atau baju,” kata Ucu, perawat senior yg selalu menyosialisaikan prosedur standar ini. “Bahkan setiap perawat yg akan mengukur tekanan darah atau suhu tubuh, bila berganti melayani pasien harus cuci tangan lebih dulu!”
Cuci tangan bukan berarti melepas tanggung jawab (arti kiasan). Tapi cuci tangan beneran. Siapa takut?


About this entry