SELITER SEHARI

Sedini ini pesan yg masuk ke BB saya masih soal air. Kurang air (kemarau) atau lebih air (banjir)? Bukan. Biasa pesan copy paste yg mungkin sudah beberapa kali kuterima, dari pengirim beda tapi pesan sama. Terapi air putih. “Minumlah 8 gelas air putih sehari!” Begitu perintahnya.
Tapi yg agak mengganggu saya, sebenarnya air putih atau air bening? Air mineral, kata seorang teman. Tapi air mineral yg banyak di jual kan sudah banyak diwarnai. Ditambah ini jadi warna merah. Ditambah itu jadi biru. Jadi mineral tidak selalu bening kan?
Maka saya lebih suka menyebut air bening. Air putih kan air susu, ya to. Meski sudah banyak mitos, dan sudah banyak diluruskan. Misal itu tadi, minum 8 gelas air bening sehari. Pada kenyataannya tubuh kita memang memerlukan cukup air setiap hari.
Menurut British Dietetic Association, sebagian besar dari kita membutuhkan sekitar 6-8 gelas cairan sehari. Ingat: cairan. Bukan air. Cairan juga bisa diperoleh dari makanan yang kita makan. Umpamanya buah dan sayur yang 80-90% terdiri dari cairan. Belum minuman lain seperti susu, teh, dan kopi.
Terlebih dalam suhu panas membuat kita mudah berkeringat, maka kita perlu asupan untuk menebus cairan yang keluar. Tubuh kita juga mampu mengatur kadar air dengan baik.
Tetapi saya ingin cerita yg lebih nyata dan saya alami sendiri. Sehari sesudah saya lolos dari masa krisis operasi jantung (bypass), bahasa sononya coronary artery bypass surgery, atau coronary artery bypass graft. Dalam catatan/rekam medis yg saya baca disingkat CABG (dibaca “cabbage”). Saya dipindah dari ruang ICCU dipindah ke ruang intermediate (sebelum ke ruang perawatan), saya lihat di meja makan yg bisa didorong itu saban hari tersedia botol 1 liter air minum (bening). “Ini jatah bapak yg harus dihabiskan selama sehari,” ujar perawat yg bertugas melayani saya sembari memberi gelas dan sedotannya. Tak banyak bertanya saya minum saja air bening itu. Apakah itu terapi atau teori ini itu, pokoknya habisin (sehari) hehe…
Baru kemudian hari berikut ketika saya dipindah ke ruang perawatan, selain disediakan sebotol (seliter) air minum (bening) itu ditambah selembar kertas (formulir) yg harus saya isi setiap saya baru buang air kecil. “Harap ditulis berapa cc yg bapak keluarkan (kencingnya),” kata perawat. “Untuk apa, mbak?” “Akan diukur seberapa banyak cairan yg keluar dan yg masuk,” jelasnya. Bila cairan yg keluar terlalu sedikit dibanding yg masuk, maka akan dievaluasi. Siapa tahu ada gangguan pada ginjal.
Selama di ruang ICCU dan intermediate saluran kencing saya disambung selang disalurkan ke suatu tempat yg diletakkan di bawah ranjang saya. Dan jumlahnya selalu dipantau secara otomatis. Tak perlu saya tulis di formulir seperti ketika di ruang perawatan (di ruang ini selang sambungan ke saluran kencing saya sudah dilepas).
Kebiasaan untuk meminum air bening seliter sehari selama dirawat di RSJ Harapan Kita itu menggugah niatan saya, kenapa tak dilanjutkan. Dan dilakukan terus ketika sakit atau sehat. Tanpa berpretensi untuk terapi ini itu. Biarkan teori berlalu. Lakukan saja. Anda juga mau coba? Ayo!


About this entry