IKRAR SYAWALAN, INDONESIA

Syawalan? Jelas karena dalam tarih Hijriah ini masih dalam bulan Syawal maka syawalan, kumpul-kumpul bersilaturahmi sambil saling memaafkan, lumprah berlimpah di mana-mana. Ada juga yg menyebut halal bihalal. Selain mantenan, baik mantu atau nguduh, tentu.
Nah, ini acara syawalan ketiga yg saya hadiri sejak pulang ke Ygy (31/8). Minggu siang di kaki bukit yg dialiri derap air melimpah selokan Mataram, di sebuah dusun kawasan Kalibawang, Kulonprogo (sejatinya dekat Muntilan). Para haji dari Kulon Progo tahun 2007 bersilaturahmi siang itu.
Tempat acara di rumah H.Marimun Nurhadi. Sejak tiba di rumah sohibul hajat saya tertarik pada kursi pembicara yg selain ada mikropon di mejanya, juga ada 4 botol yg beda besarnya ditata berjejer. Lalu ada fotokopian beberapa lembar. Anehnya, kursi itu dari awal hingga akhir acara tak pernah diduduki, bahkan oleh pembicara yg mengulas soal syawalan tsb. Lantas botol-botol itu untuk apa? “Itu nampaknya berisi jinten,” pak Soegeng, undangan yg duduk di sebelah membisiki saya. Tapi saya diam saja. Jadi, untuk apa kursi dan botol-botol itu? Mana kutahu.
Selain kursi dan botol, yg menarik: ikrar. Kata berasal dari bahasa Arab yg berarti janji itu, adalah acara inti, kata pemandu acara. Jadi, semua yg hadir berdiri lalu bersama-sama berikrar. Intinya semua kesalahan antar hadirin/hadirat (ibu-ibu juga hadir) saling dimaafkan. Jadi tak ada saling bersalaman yg berpanjang kayak ular. Praktis? Entahlah.
Syawalan yg diakhiri bersalaman mengular itu dikerjakan oleh kantor saya, LP3Y, Sabtu siang (8/9) di pendopo. Acara dikemas beda dengan yg lain: tak ada pembicara yg mengulas arti syawalan, hanya doa sederhana antar keluarga karyawan, dan doorprize (tak cuma satu-dua tapi banyak, mulai dari sendok sampai magic jar). Hadiah paling mahal, mungkin, ya pemasak nasi listrik itu, yg diundi paling akhir. La kok yg dapat saya. Hehe.. Sumpah, tanpa rekayasa.
Syawalan yg pertama saya hadiri, syawalan tetangga se kampung (4/9). Sederhana, tanpa makan-makan, hanya cemilan (snak). Tapi yg sangat menyentuh dibuka dengan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Terasa Indonesia banget. Di saat banyak orang mulai tak peduli pada negeri ini, orang sekampung kok ya mengingatkan dengan cara bersahaja, nyanyi bersama untuk membela Indonesia. Bagaimana di kampung anda?


About this entry