KISAH TIGA JARI

image

Hariku pelan mulai menyingkirkan aral melintang. Ketakutan pada kekuatan yg menyusut diam-diam. Ketakutan yg berlebihan untuk bangkit menyusun harapan. “Jadi tentukan mulai sekarang target nadi latihan!” perintahmu lugas. Apapun gerak nadi adalah harapan.

Biarkan tiga jari sebisamu merekam detakmu saban hari. Kemudian kau gunakan sebagai batas kekuatanmu. Dan kau ternyata terlalu sering mengabaikan itu? Atau pura-pura tahu membelit sekujur tubuhmu. Lalu kau sembunyikan dirimu di situ.

Kalau sekarang aku lolos dari lorong persembunyian itu karena aku melihat tubuhku mengharu-biru dicabik waktu. Tubuhku diam dan alat bantu itu berkali-kali menyeru: “Kenapa kau biarkan sok tahu membekap aliran darahmu?” Lalu kau memotong lorong-lorong gelap itu. Dan menyambungnya menuju nafasku. Aku malu.

Dinding dingin kembali menyalamiku. Menunjuk tiga jariku. “Gunakan itu!”

HarapanKita 9 Agt 2012


About this entry