DI ANTARA DUA JALUR

image

Jalur satu semula menyebutku ragu dan takut senyap di sebuah kesenyapan. Bukankah senyap itu asalku dan lenyap itu rindu tertinggiku? Barangkali aku abai meringkas catatan itu dan menyimpannya dalam kartu memoriku yg serba terbatas itu.

Jalur dua terus memompaku  harapan baru dan berbagai kisah lucu. Misalnya kau selalu ingatkan aku pembawa bom bunuh diri yg pelatuknya lupa kusimpan di mana, tapi timernya melangkah tak terduga. Ah, kau mengolokku. Bukankah di kedua jalur kakiku kau siapkan harapan baru itu?

Sepekan kemudian kau berdua buktikan: kami saling menguatkan bukan saling meniadakan. Biarlah kami berdua saling tindih menghangatkan. Apakah kau mulai mencemburuiku?

Aku mulai bersenam ringan, melangkah beberapa putaran, mengayuh harapan sambil bersyukur riang. Hai! Sudahkah kau lekatkan telemetri di sekitar suara nadi? Agar aku bisa memantau kesetianmu pada janji yg kau ucapkan di lorong pekat.

Janji yg dicatat. Tak perlu kau ralat meski dengan satu kalimat.

Harapan Kita 9 Agustus 2012


About this entry