PERAWAT TANPA NAMA

image

Namamu yg tertera di dada tak bisa sekilas kubaca. Karena kau bergerak silih berdetak. Seperti sekelebat malaikat yg bertugas mencatat dari angka yg mencuat. Dari tubuh yg butuh kau sentuh. Dari jiwa yg perlu kau pompa geloranya.

Namamu tak perlu meyakinkanku. Tapi kesigapan dan kompetensimu itu yg perlu. Melayani tak membedakan. Melawan kantuk 24 jam tak terlewatkan. Keluhmu pasti kau sembunyikan di celah hari lain. Lalu kau tanam di ruang belakang. Lalu kau datang dengan nyala pengabdian. Itulah rute kehidupan yg selalu kau ulang.

Bosan? Barangkali itu kata yg harus kau tepis berulangkali. Namanya saja manusia dan itu hal yg biasa. Apalagi bila kau harus merawatnya setiap saat. Setiap bel dibunyikan. Setiap pinta kecil yg disodorkan. Bahkan bila bel meraung tanpa tahu siapa memencetnya. “Ah, salah pencet.” Betapa menjengkelkannya. “Lu kira tempe penyet ya?” Lalu kau tertawa menghapus luka.

Masih perlukah kusebut namamu satu-satu? O Shakespeare mengapa kau ungkap kata tenung itu: Apalah arti sebuah nama?

HarapanKita 7 Agt 2012

Facebook: Slamet Riyadi Sabrawi
Twitter: @sriyadi


About this entry