THOWAF YANG LEBIH MEDITATIF

Saya dan istri thowafAhad 23 Des 2007: Malam Ahad beredar kabar, besok pagi sesudah sarapan kami (romb.3) akan bersama-sama melakukan Umrah Ifadha. Semua kumpul di depan Masjid Haram. “Sehabis sarapan itu tepatnya jam berapa?”tanya pak Soegeng. Akhirnya, karena memang tidak jelas jam berapa, maka rencana umrah bersama rombongan itu pun buyar. Kami, regu4, pukul 8.30 berangkat ke Haram dengan kendaraan umum yang dikutip 3 rial/orang. Sesampai di depan Haram tak satupun anggota rombongan 3 lain nampak, bahkan ka-romnya pun tak ada. Untung ada rombongan 1 yang dipimpin pak Fatur. Kami nunut thowaf dan sa’i bersama mereka. Namun, dalam putaran thowaf regu kami tercerai-berai. Saya & istri berjalan paling belakang dalam regu. Di depan kami pak Soegeng & istri.


Mengaso sehabis thowafTiba-tiba masih dalam putaran kedua pak Soegeng & istri lepas dari rombongan. Ketika saya mau mengejar mereka, tiba-tiba bu Yati Basuki, seorang pembimbing KBIH ‘Aisyiyah juga, mendorong kami dari belakang. “Pak, jangan keluar barisan karena banyak yang sedang shalat. Masuk saja insyaAllah ketemu dengan romb pak Fatur”. Alhamdulillah, benar juga tak lama kami ketemu rombongan pak Fatur lalu saya bergabung di bagian ekor barisan pula.

Ustadz Fatur memimpin thowaf dengan tenang, kalau ada barisan lain yang memotong atau menyalip ia mengajak berhenti. Ia memimpin tanpa lantunan doa & dzikir yang lantang sehingga menggerus kekhusukan. Banyak rombongan, termasuk dari Indonesia, yang menyuarakan doanya secara gegap-gempita.Didahului suar pemimpinnya, kemudian secara koor disusuli suara anggota rombongannya. Menurut saya kok menjadi kurang khusuk, meski barangkali menambah semangat. Padahal menurut KarenBuku karya Karen Amstrong Amstrong: “Saat para peziarah berlari kecil di seputar kubus granit besar itu, berlawanan arah jarum jam, mereka menempatkan diri selaras dengan tatanan fundamental kosmos. Lingkaran merupakan simbol lazim dari totalitas, dan berjalan keliling membuat orang terus kembali ke titik awal mereka, membangkitkan rasa perulangan dan keteraturan. Dengan berputar-putar mengelilingi Ka’bah, para peziarah belajar untuk menemukan orientasi sejati mereka dan pusat batin mereka; ritme lari yang tetap secara perlahan mengosongkan benak mereka dari pikiran-pikiran dangkal dan membantu mereka memasuki keadaan yang lebih meditatif,’ (dalam bukunya berjudul “Muhammad, Prophet For Our Time”, Mizan, 2007). Amstrong yang mengaku “freelance monotheist“, jelas bukan muslimah, dan haram berthowaf, tetapi ia bisa menggambarkan bagaimana seharusnya thowaf dilakukan.

Sesudah selesai 7 putaran, tentu sudah pula saya sampaikan berbagai permintaan doa teman di tanah air, juga doa kami utk keluarga sendiri, kami pelan-pelan keluar dari putaran thowaf, mencari tempat sholat di belakang maqom Ibrahim. Sholat sunah 2 rakaat, doa syukur, lalu ke belakang meminum air zam-zam secukupnya sambil berdoa:
Allahumma innii as ‘aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan waasi’an wa syifaa’an min kulli daa’in” (Ya Allah sungguh aku mohon kepada-Mu ilmu yg bermanfaat, rezeki yg banyak dan penyembuhan dari segala penyakit). Kami kemudian bersa’i, masih bersama rombongan uztad Fatur. Setiap sampai pada Shofa atau Marwa kami menepi, menghadap Ka’bah, lalu berdoa dipimpin pak Fatur kami mengamini. Begitu seterusnya, sehingga sangat khidmat. AlhamdulillAh wa syukurillah. Kami sudah menyelesaikan haji. Semoga menjadi haji mabrur. Amin.

Senin, 24 Des 2007. Pagi sekitar pukul 6, Narsih, sekretaris kantor, telepon menanyakan kondisi saya karena di koran Kedaulatan Rakyat (koran Yogyakarta) & Solopos (koran Solo) diberitakan bahwa jamaah haji asal Yogya kelèlèran di tanah suci. Saya tak tahu sumbernya darimana, atau mungkin soal keterlambatan bis jemputan di Musdalifah? Yang jelas saya melakukan klarifikasi bahwa kami tidak kelelerJerigen dari Garudaan di Mekah. Pukul 12.10 pak Tarjo datang ke kamar kami membawa 10 jerigen @ 5 liter dari maskapai penerbangan Garuda. Jerigen itu agar diisi air zam-zam yang harus diambil oleh masing-masing jemaah di Masjidil Haram. Dan jerigen itu diperbolehkan dijinjing dalam pesawat tatkala pulang. Jadi, beda dengan haji tahun lalu yang jerigen air zam-zamnya tinggal diambil di kantor Depag setempat bersama tas besar.

“Mekah telah mencapai kesuksesan yang mencengangkan. Kota itu kini merupakan pusat perdagangan internasional dan para pedagang dan pemodalnya telah menjadi kaya raya melampui impian-impian tertinggi mereka. Hanya beberapa generasi terdahulu, leluhur mereka hidup dalam kemelaratan, serba-kekurangan, di gurun tak bertepi Artab utara. Kejayaan mereka amat luar biasa, mengingat kebanyakan orang Arab bukanlah pemukim di kota melainkan kaum nomad,” puji Amstrong. Maka kalau barang-barang buatan Korea dan Cina, yang dikenal murah, mengguyuri lorong-lorong perdagangan Mekah, khususnya di musim haji, tak perlulah kita heran. Barang-buatan buatan China, khususnya berbagai mainan anak-anak seperti tentara ngesot sambil menembak, pesawat terbang menggendong anak pesawat, mobil-mobilan yang bisa jungkir balik cuma dijual 10 rial. Bahkan ada juga yang 5 rial. Adapula sepatu buatan Cina yang dijajakan di kaki lima, belum lagi berbagai bentuk peci, sajadah, jam tangan. Produk negara komunis ternyata laris manis di pusat negara muslim. Inikah dampak dari liberalisasi ekonomi? Sedang pisang yg 1kg 5 SAR sebagian besar diimpor dari Amerika Latin,Equador misalnya dan Filipina. Sedang sajadah & karpet kebanyakan buatan Syria & Turki, seperi yg ada di pasar Indonesia. Karena itu untuk kenang-kenangan saya sengaja mencari sajadah buatan Arab Saudi, harganya sekitar 15-20 SAR (tergantung bagaimana dan dimana kita menawar. Pasar Seng? Kemahalan). Barang-barang elektronik seperti memory card ternyata lebih murah di Yogya (memory stick Sony 2GBKartu Mobily 30 pulsa di Yogya Rp 250.000 di Mekah, merek Scandisk 125 rial, atau kalau pintar nawar bisa dapat 100 rial, tapi Sony kan jauh lebih baik). Agar tak kejeblos bandingkan dulu dengan merek yang sama di tanah air. Telpon melalui kartu telepon setempat (mobily atau al jawal) ke tanah air per menit 2 rial. Kartu telepon Mobily, yang pada saat awal kami datang dijual sesuai bandrol, sekarang naik. Yang isi 30 pulsa semula harganya 30 rial naik jadi 35.


About this entry