JEMBATAN SUDAH LEWAT

image

Seorang teman lewat di ruang maya. Sekedar menyapa ia taruh sedikit tanda tanya. Apa kabar, misalnya. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawabku. Tapi aku jadi lebih ringan, meletakkan kata tanpa beban. Jembatan sudah kulalui, menyorongkan salam, lalu sama asyik sendiri.

Halo, lagi apa? Menunggu hujan, jawabku. Mungkin ia heran musim hujan kok masih menunggu. Memang hujan di luar, di tempatmu barangkali, tapi bukan di ruangku. Sumuk. Udara kering. Malah kudengar tempatmu banjir, longsor, hilang rumah, hilang jiwa. Jembatan ambruk. Semua sibuk menghitung, mencacah jiwa, mencatat barang2 yg tersedia disulap jadi kambing. Hitam.

Jembatan yg lain menyatakan siap menjadi penghubungku dengan musim yg lain. Musim yg tak tercatat di kalender dindingku. Meski hurufnya besar dengan angka mencolok. Musim yg dibawa angin. Musim rambutan atau mungkin durian.Musim penawar rasa ingin.

Jembatan segala musim. Menghubungkan atau malah memutuskan segala keinginan untuk segera. Kaya. Lalu beragam upaya, berbagai cara, mengisi celah jembatan itu. Dengan batu. Dengan tipu. Dengan cuci. Melalui jembatan itu yg mencatat dan menyimpan segala gerak. Dan menimbun berulang kali. Jadi tambun.

Dan jembatan itu menyerupai keledai. Mirip kuda. Mirip manusia.


About this entry