GIRIK

Untuk sekerat daging ia butuh kupon yang tak ia punya. “Namaku tak tercatat di kelurahan. Aku penduduk bayangan,” ujarmu letih. Tapi kau butuh daging itu untuk lima anakmu. Orang-orang yang mengantri dengan girik di tangan kiri itu, kau kenali. Ia tetangga yang acapkali mengusirmu. Ketika kau menyampaikan kabar lapar. Ketika latar terasa samar. Hilang batas kabar membelukar.

Bila tanda ia tak, penanda ia punya. Bukan sekedar angka atau aksara.Ia adalah jiwa bersuara di ruang kedap udara. Ruang hampa pematut statistika. Tak bermuka.

Siang mencekal bayang. Kau beringsut tinggalkan kerumunan. Di tangan kirimu girik kau genggam erat, “Untuk tahun depan menuju pemakaman.” katamu. ┬áDaging ┬ásebungkus itu? “Biarlah dimakan anjing yang lebih lapar dariku.”

Wates, 6 Nop 2011


About this entry