JUHAIMAN, SANG MAHDI?

Buku Buku (“Kudeta Mekkah, Sejarah Yang Tak Terkuak”) yang diterbitkan pada Desember 2007 dan ditulis Trofimov selama setahun itu dilengkapi dengan catatan kaki serta penjelasan bagaimana ia memperoleh data dan narasumber. “Saat itu, pelukan ortodoksi Wahhabi tampak seperti kebijakan pertahanan yang arif bagi Istana Saud. Baru setelah beberapa dekade, indoktrinasi ini telah melahirkan sebuah generasi baru kelompok radikal al-Qaeda. Beberapa pangeran senior menyadari kebodohan itu. “Saya yakin, kita telah melakukan kesalahan di kerajaan ini,” Pangeran Khalid al-Faisal, Gubernur Provinsi Asir, kampung halaman sang Mahdi (dalam buku itu bernama Muhammad Abdullah, berumur sekitar 20an tahun, tewas akibat ledakan granat yang dilempar tentara Saudi di basement Masjid Haram tempat persembunyian para pemberontak), mengakui pada tahun 2004. “Kita telah membersihkan orang-rang yang terlibat dalam kejahatan Juhaiman, tetapi kita mengabaikan ideologi yang berada di belakangnya. Kita telah membiarkan itu tersebar di negeri ini, mengabaikan seolah-oleh ia tidak ada.” (Hal 317).


Waktu itu, tepat setelah pemberontakan Mekkah, Osama bin Laden masih seorang warga Saudi yang patuh. Tumbuh dalam keluarga relatif modern, dia berasal dari generasi Saudi yang berbeda dan lebih canggih. Tidak seperti Juhaiman, Bin Laden tidak memiliki persoalan dengan foto atau televisi, menganggap semua itu sebagai senjata paling berharga untuk jihad. Pastinya, Bin Laden tidak memiliki teori ganjil seperti Juhaiman –dan, setelah kematian Muhammad Abdullah, yang terbukti salah—tentang kedatangan Mahdi pada 1400 tahun Islam.

Namun, terkejut oleh keganasan prang di Mekkah, dan oleh restu para pemimpin keagamaan bagi serangan militer, pendiri al-Qaeda di masa depan ini tidak dapat menahan perasaan simpati terhadap Juhaiman dan motif pemberontakannya. Dalam komentar publiknya mengenai pemberontakan di Mekkah, yang dibuat di tahun 2004, Bin Laden menyimpan segenap kemarahannya terhadap rezim Saudi. “(Pengeran pewaris tahta) Fahd sudah mengotori kemulian Masjid al-Haram.” Kenang Bin Laden dalam rekaman suara yang dikirim ke pelbagai situs Web pejuang jihad. “Dia memperlihatkan sikap keras kepala, melawan nasihat setiap orang, dan mengirim tank baja serta kendaraan-kendaraan bersenjata ke dalam Masjid. Saya masih ingat jejak tank-tank baja di ubin Masjid. Orang-orang masih ingat bahwa menara-menara diselimuti asap hitam karena dibombardir oleh tank-tank.” (Hal 321-322).

AHAD 9 Des 2007. Ini hari kedua di Mekah. Subuhan di Haram berbeda dengan di Nabawi, di sini laki-perempuan bercampur. Begitu azan dikumandangkan orang-orang yg melakukan thowaf berhenti, siap bersalat. Kami berlima (saya&istri, Hoddin&istri, Sugeng) kali ini berkesempatan salat di lantai 2. Lantai 1 penuh. Karena di rung setengah terbuka AC tak begitu dibutuhkan, yang ada kipas angin berjumlah banyak. Kami masuk via eskalator (tangga berjalan) no. 8.
Sesudah salat subuh kami sempat bertemu dengan kakak istri saya, Abdulrahman, yg berangkat dari Salatiga (kloter 45). Kami sebelumnya janjian ketemu di depan pintu 1 (Babul Malik). Alhamdulillah, kami bertemu tepat waktu, tanpa kesulitan mencari. IaBersama kakak istri saya sebenarnya berangkat ke Haram dengan istrinya, tapi sang istri sudah dengan rombongan ibu-ibu satu regunya pulang ke maktab duluan karena ada urusan.
Sesudah ngobrol kangen dengan kakak, kami pulang ke makhtab. Di depan maktab, dekat terminal Aziziyah, kebetulan masih banyak orang-orang Indonesia (kebanyakan dari Madura) yang bekerja di Mekah jualan makanan Indonesia seperti, pecel, bakwan, nasi goreng, kacang ijo yang harganya rata-rata 1-2 rial. Kami seregu membeli bersama untuk dimakan bersama di maktab. Makan bersama dengan menu Indonesia begitu nikmat, alhamdulillah.
Kala zuhur saya & pak Pujo berjamaah di musala depan maktab tidak ke Haram. Saya membantu istri menjereng pakaian di lantai 11 sambil mengambil foto bukit dan jalanan Aziziyah. Makan siang bersama molor hingga 14.30 karena ternyata pak Hodin & pak Sugeng yg berjamaah di Haram pulangnya nyasar, bisnya keblabasan dan berhenti di maktab lain yg lumayan jauh. Jadi, ibu-ibu makan siang duluan, kami bapak-bapak berempat ini menyusul kemudian.
Sore hari diumumkan oleh Karom 3 agar para jamaah membayar dam 380 rial/jamaah diserahkan ke kepala regu masing-masing. Kami seregu membuat kesepakatan untuk salat berjamaah di Haram: Subuh, Asyar, Maghrib, Isya (Zuhur di maktab). Kalau misalnya ada yg tak kuat akan dikoreksi. Kesepakatan ini berlaku mulai besok (Senin,10/12/07), insyaAllah. (Bersambung ke posting berikutnya)


About this entry