<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>slametriyadi.com</title>
	<atom:link href="http://slametriyadi.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://slametriyadi.com</link>
	<description>Slamet Riyadi Sabrawi (sriyadi@gmail.com)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 14:22:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>SELAUT KANGEN DI  SEPOTONG MALAM</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=750</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=750#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 14:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Kularung kangenku melaut menyingkap ombak. Angin terjebak di sela laut kusut. Kau, mungkin bermain kantuk, atau meniti mimpi dalam puzzlemu warna-warni. &#8220;Kujaga mainanmu, ia akan jaga langkah kecilmu.&#8221; Pasir lautku dan paruh buihmu berkelindan di pinggir siang. Lagu anyar yg kau kejar membuatku terpingkal. &#8220;Mengapa bunyi r kau sembunyikan?&#8221; &#8220;Kujaga nyanyianmu, ia akan jaga lidah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kularung kangenku melaut menyingkap ombak. Angin terjebak di sela laut kusut. Kau, mungkin bermain kantuk, atau meniti mimpi dalam puzzlemu warna-warni.</p>
<p>&#8220;Kujaga mainanmu, ia akan jaga langkah kecilmu.&#8221;</p>
<p>Pasir lautku dan paruh buihmu berkelindan di pinggir siang. Lagu anyar yg kau kejar membuatku terpingkal. &#8220;Mengapa bunyi r kau sembunyikan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kujaga nyanyianmu, ia akan jaga lidah kecilmu.&#8221;</p>
<p><em>Wates, 2010 Ramadan</em>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=750</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAJAK PaGI</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=748</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=748#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 22:20:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Haj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=748</guid>
		<description><![CDATA[Rencana berpulang pada kata dan kalimat nganga. Di sebuah luka yg sembuh dari duka. Di antara ilalang siang, rumput kerontang dan ranting yg terlempar angin. Suara derit itu meninggalkan sakit.  Katamu, subuh segera angkat sauh. Perjalanan menjauh meninggalkan kepak dan ribuan telapak. Kalau pagi datang menyergap kau sudah bersiap. Di buritan angin berkesiut kencang. Wates [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rencana berpulang pada kata dan kalimat nganga. Di sebuah luka yg sembuh dari duka. Di antara ilalang siang, rumput kerontang dan ranting yg terlempar angin. Suara derit itu meninggalkan sakit. </p>
<p>Katamu, subuh segera angkat sauh. Perjalanan menjauh meninggalkan kepak dan ribuan telapak. Kalau pagi datang menyergap kau sudah bersiap. Di buritan angin berkesiut kencang.</p>
<p>Wates 2010 Ramadan<br />
<em>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=748</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radio Swara Desa Indonesia</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=741</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=741#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 05:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[EDP (Evaluasi Dengar Pendapat)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=741</guid>
		<description><![CDATA[Baru kali ini acara EDP radio komunitas dibuka dg Jatilan dan Dandang Gulo. Pemain Jatilan lalu menutup aksinya dg mengenakan topeng Marconi (penemu radio). Penyuara Dandang Gulo memakai beskap+blangkong (pakaian Jawa), termasuk Hendro Plered (penggagas Radio Swadesi/Swara Desa Indonesia). Acara yg digelar di Aula Komisi Penyiaran Indonesia DIY, Jl.Brigjen Katamso, Yogyakarta ini semacam &#8220;fit &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/08/Hendro-Plered-mantu-Swadesi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-743" title="Hendro Plered mantu Swadesi" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/08/Hendro-Plered-mantu-Swadesi-300x225.jpg" alt="" width="256" height="192" /></a>Baru kali ini acara EDP radio komunitas dibuka dg Jatilan dan Dandang Gulo. Pemain Jatilan lalu menutup aksinya dg mengenakan topeng Marconi (penemu radio). Penyuara Dandang Gulo memakai beskap+blangkong (pakaian Jawa), termasuk Hendro Plered (penggagas Radio Swadesi/Swara Desa Indonesia). Acara yg digelar di Aula Komisi Penyiaran Indonesia DIY, Jl.Brigjen Katamso, Yogyakarta ini semacam &#8220;fit &amp; proper&#8221; bagi radio komunitas.<br />
Radio komunitas memang harus menjalani prosedur ini. Sesudah mengumpulkan bukti dukungan komunitas dg minimal 250 copy Kartu Tanda Penduduk. (Hendro Swadesi malah menyertakan 600 copy KTP,&#8221;Dan itu benar-benar warga desa Jambidan (Kecamatan Banguntapan, Bantul),&#8221; ujar Hendro.<br />
Radio yang beroperasi di 107,9 FM ini punya slogan: Konco Prihatin Lahir Batin! (Konco/Jawa=teman). Dipancarkan dari rumah Hendro Plered, dusun Demangan, desa Jambidan.<br />
Hendro yang &#8220;tukang MC/Master of Ceremony)&#8221; ini memang nyeni (karena sarjana seni) dan Jawani (muatan lokal).<br />
Acara yg dibuka pukul 10.30 dipandu Dr Surach Winarni M.Hum/ang<a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/08/KPID-melakukan-EDP-Swadesi-FM.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-745" title="KPID melakukan EDP Swadesi FM" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/08/KPID-melakukan-EDP-Swadesi-FM-300x227.jpg" alt="" width="162" height="122" /></a>gota KPI-DIY, yg suka berpantun, dievaluasi oleh Rahmat M.Arifin/Ketua KPID, Ki Gunawan dan Tri Suparyanto (keduanya anggota KPID). Kesimpulan sidang: radio Swadesi layak melanjutkan proses berikutnya ke Jakarta (meraih Ijin Siaran Radio) yg dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan dan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Tunggu saja, Jakarta.</p>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=741</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MELAWAN KANTUK NAVEEN</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=733</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=733#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 17:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba pagi menjeratmu. Baju baru seragammu dan tas yang memberati bahumu berceloteh lucu. Sekolah? Para ustadzah coba mengasah: hari-harimu lelah. Atau mengajarimu berseluncur dan cara bertutur. Dinding, meja dan bangku kecil mencatat tangismu hilang bunda di balik jendela. Lalu lantai tertawa suka pada caramu berdoa, makan bersama siang. Kadang sepotong kau sisipkan pulang adik tersayang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naveen-di-Blog-Kakung.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-736" title="Naveen di Blog Kakung" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naveen-di-Blog-Kakung-262x300.jpg" alt="" width="102" height="118" /></a>Tiba-tiba pagi menjeratmu. Baju baru seragammu dan tas yang memberati bahumu berceloteh lucu. Sekolah? Para ustadzah coba mengasah: hari-harimu lelah. Atau mengajarimu berseluncur dan cara bertutur.</p>
<p>Dinding, meja dan bangku kecil mencatat tangismu hilang bunda di balik jendela. Lalu lantai tertawa suka pada caramu berdoa, makan bersama siang. Kadang sepotong kau sisipkan pulang adik tersayang. &#8220;Sepotong lagu untuk bundaku&#8221;,tuturmu.</p>
<p>Harimu ditulis dalam sebuah buku. Dibaca bunda terharu, &#8220;Itulah dunia, anakku, selompatan kaki kecilmu.&#8221;</p>
<p>Meski sudah dipasang, tidur berjamaah siang jarang lelap  datang. &#8220;Kantukku kubawa pulang untuk oleh-oleh adikku.&#8221;</p>
<p><em>Wates, Juli 2010</em></p>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=733</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERDEPA LANGKAH NAURA</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=731</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=731#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 16:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[Senangnya siang diinjaki langkah kaki. Kuhitung satu ia menerabas sepuluh. Lari berjinjit menyiratkan suka membara. Pada pembatas, itu pagar, tapi padamu tempat tanganmu mencekal sesekali ambil nafas. Lalu tertawa lepas. Ini bukan hari pertama kau mengajari kakimu lari. Kaki yang masih suka menelikung agar tangis terjerembab. Tangan yang bergoyang menepis pegangan. Karena jatuhmu memacu kakimu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naura-belepotan-eskrim.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-739" title="Naura belepotan eskrim" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naura-belepotan-eskrim-232x300.jpg" alt="" width="97" height="126" /></a>Senangnya siang diinjaki langkah kaki. Kuhitung satu ia menerabas sepuluh. Lari berjinjit menyiratkan suka membara. Pada pembatas, itu pagar, tapi padamu tempat tanganmu mencekal sesekali ambil nafas. Lalu tertawa lepas.</p>
<p>Ini bukan hari pertama kau mengajari kakimu lari. Kaki yang masih suka menelikung agar tangis terjerembab. Tangan yang bergoyang menepis pegangan. Karena jatuhmu memacu kakimu melompati bayang kecilmu. Siapa ia, menjaga atau menggoda?</p>
<p>Kemarin kau masih bergandeng pada tangan yang mendekatkatmu. Kemarin sesekali kau lupa, bertumpu di kedua kaki melangkah sekian kaki. &#8220;Aku bisa sendiri&#8221;, ujar raut mukamu. &#8220;Ah cuma di sini, coba di sana&#8221;, bundamu pinta. Kau terkekeh. Kau merangkaki lagi, lagi.</p>
<p>Itu duniabarumu. Langkahi berdepa-depa. Limpahi dengan kaki-kaki, boleh berjinjit, lalu lepas tawamu di pembatas. &#8220;Apakah duniamu tanpa batas?&#8221; sorot matamu bertanya. Aku bergegas kikuk</p>
<p><em>Wates, 2010</em></p>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=731</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERDEPA LANGKAH NAURA</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=727</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=727#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[Senangnya siang diinjaki langkah kaki. Kuhitung satu ia menerabas sepuluh. Lari berjinjit menyiratkan suka membara. Pada pembatas, itu pagar, tapi padamu tempat tanganmu mencekal sesekali ambil nafas. Lalu tertawa lepas. Ini bukan hari pertama kau mengajari kakimu lari. Kaki yang masih suka menelikung agar tangis terjerembab. Tangan yang bergoyang menepis pegangan. Karena jatuhmu memacu kakimu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naura-cemang-cemong1.jpg"><img class="alignnone size-full" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Naura-cemang-cemong1.jpg" alt="" title="Naura-cemang-cemong.jpg" width="528" height="400" /></a></p>
<p>Senangnya siang diinjaki langkah kaki. Kuhitung satu ia menerabas sepuluh. Lari berjinjit menyiratkan suka membara. Pada pembatas, itu pagar, tapi padamu tempat tanganmu mencekal sesekali ambil nafas. Lalu tertawa lepas. </p>
<p>Ini bukan hari pertama kau mengajari kakimu lari. Kaki yang masih suka menelikung agar tangis terjerembab. Tangan yang bergoyang menepis pegangan. Karena jatuhmu memacu kakimu melompati bayang kecilmu. Siapa ia, menjaga atau menggoda?</p>
<p>Kemarin kau masih bergandeng pada tangan yang mendekatkatmu. Kemarin sesekali kau lupa, bertumpu di kedua kaki melangkah sekian kaki. &#8220;Aku bisa sendiri&#8221;, ujar raut mukamu. &#8220;Ah cuma di sini, coba di sana&#8221;, bundamu pinta. Kau terkekeh. Kau merangkaki lagi, lagi.</p>
<p>Itu duniabarumu. Langkahi berdepa-depa. Limpahi dengan kaki-kaki, boleh berjinjit, lalu lepas tawamu di pembatas. &#8220;Apakah duniamu tanpa batas?&#8221; sorot matamu bertanya. Aku bergegas kikuk</p>
<p><em>Wates, 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=727</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MALAM</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=724</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=724#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 20:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Kupersiapkan ribuan busur permintaan dari sudut malam, sepertiga waktu, dan ratusan mata panah mengasah kantukku. Kau diamkan nyinyirku mengukir ruang di sudut-sudut sujud yang susut. Malam menyemai sinyal merenda doa-doa digital yang beranjak dari sajadah sosialku. Kau biarkan jejalan kata meruap di milismu menuju langitmu ketujuh. Ruang yang tak bisa kusentuh. Kusisipkan sebuah nada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kupersiapkan ribuan busur permintaan dari sudut malam, sepertiga waktu, dan ratusan mata panah mengasah kantukku. Kau diamkan  nyinyirku mengukir ruang di sudut-sudut sujud yang susut.</p>
<p>Malam menyemai sinyal merenda doa-doa digital yang beranjak dari sajadah sosialku. Kau biarkan jejalan kata meruap di milismu menuju langitmu ketujuh. Ruang yang tak bisa kusentuh.</p>
<p>Kusisipkan sebuah nada di sela tanda baca: Amin.</p>
<p><em>Wates, 2010</em>
<p>Posted with WordPress for BlackBerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=724</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAYU BAKAR PAGI DI PUNGGUNG TUA</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=717</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=717#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 00:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kayu bakar]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Kayu bakarmu kian menyundul langit Pagi yang kamu tanjaki bernapas rapi Adakah pasarmu menguatkan hari? Orang-orang meninggalkan gas Memantik kayu api Usiamu menggapai 80, jutaan peluhmu luluh. Punggungmu menahan ruh Di antara langkah kaki sepeninggal subuh. Jalanan setapak hilang riuh Pulang siang bukan uang di gendongan Keringat menitik dari kulitmu lisut Peluh tak pernah jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Pembawa-kayubakar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-719" title="Pembawa kayubakar" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/Pembawa-kayubakar-195x300.jpg" alt="" width="117" height="180" /></a></p>
<p>Kayu bakarmu kian menyundul langit<br />
Pagi yang kamu tanjaki bernapas rapi<br />
Adakah pasarmu menguatkan hari?<br />
Orang-orang meninggalkan gas<br />
Memantik kayu api</p>
<p>Usiamu menggapai 80, jutaan peluhmu luluh. Punggungmu menahan ruh<br />
Di antara langkah kaki sepeninggal subuh. Jalanan setapak hilang riuh<br />
Pulang siang bukan uang di gendongan</p>
<p>Keringat menitik dari kulitmu lisut<br />
Peluh tak pernah jadi keluh</p>
<p>Wates, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=717</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>241/2 DERAJAT</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=715</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=715#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 09:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=715</guid>
		<description><![CDATA[Sesudah kau kumpulkan para ulama penakar cakrawala di sebuah masjid tua Api menyulut keberanianmu menyeka dusta menuju arah utama Lalu kau torehkan garis beda berukuran 241/derajat ke utara membuat Penghulu murka Padahal Kiblat menjadi arah penentu Padahal sudah kau susuri Makkah dan Lembang untuk belajar perbintangan Kau kecewa tapi kau tak kuasa untuk marah apalagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/KHA-Dahlan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-721" title="KHA Dahlan" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/07/KHA-Dahlan.jpg" alt="" width="85" height="108" /></a></p>
<p>Sesudah kau kumpulkan para ulama penakar cakrawala di sebuah masjid tua<br />
Api menyulut keberanianmu menyeka dusta menuju arah utama<br />
Lalu kau torehkan garis beda berukuran 241/derajat ke utara membuat Penghulu murka<br />
Padahal Kiblat menjadi arah penentu<br />
Padahal sudah kau susuri Makkah dan Lembang untuk belajar perbintangan</p>
<p>Kau kecewa tapi kau tak kuasa untuk marah apalagi murka<br />
Lalu kau dirikan surau di dekat rumahmu sesuai niatanmu mematrikan arah penentu<br />
Tapi kemurkaan terus menyala disulut kuasa, “Robohkan surau Dahlan,” perintah Penghulu di 14 Ramadhan kepada kaki tangannya<br />
Padahal tarwih belum usai di malam 15 ketika palu dan linggis tidak menggubris orang-orang menangis<br />
Seperti tangis Dahlan yang dalam. Ia sengaja tak menyaksikan. Ia menyelinap pergi sebelum suraunya roboh ke bumi</p>
<p>Yogya 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=715</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SALYA</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=706</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=706#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 07:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=706</guid>
		<description><![CDATA[Kabarmu datang dengan rentan  kecemasan. Ia menyergap sambil riang mengendap. Seperti pagi ketika Salya tahu takdirnya. Ia memang tak sendiri, tapi di garang Kurusetra siapa tak gamang mengangkat pedang? Bukan musuh dihadang. Hanya bayang membentengi siang. Ada  gamang ketika remang jadi terang. Semua terlihat, urat-urat mukamu menyemburat. Semua tersurat. Bukankah itu kau sebut makrifat? Yogya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-707" title="salya-wayangprabu" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2010/04/salya-wayangprabu.jpg" alt="salya-wayangprabu" width="92" height="134" />Kabarmu datang dengan rentan  kecemasan. Ia menyergap sambil riang mengendap. Seperti pagi ketika Salya tahu takdirnya.</p>
<p>Ia memang tak sendiri, tapi di garang Kurusetra siapa tak gamang mengangkat pedang? Bukan musuh dihadang. Hanya bayang membentengi siang.</p>
<p>Ada  gamang ketika remang jadi terang. Semua terlihat, urat-urat mukamu menyemburat. Semua tersurat. Bukankah itu kau sebut makrifat?</p>
<p>Yogya 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=706</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
