<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>slametriyadi.com</title>
	<atom:link href="http://slametriyadi.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://slametriyadi.com</link>
	<description>Slamet Riyadi Sabrawi (sriyadi@gmail.com)</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 23:09:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>HURUF BESAR</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1028</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1028#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 23:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Dino]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[rakus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[Tak apa kau menyatakannya bertutur beda. Kau menyeret huruf sekenanya. Kadang lucu. Tapi kutahan tawa. Agar kau tak kecewa. Dan bersemangat terus bercerita apa saja. Aku suka menatap wajahmu ketika kau berkisah Dino yg mengejar mimpimu. Aku tak mengenal siapa yg berleher lebih panjang dari mereka. Dan kau mengingatkanku berulang-kali namanya. &#8220;Ada yg kupingnya lebar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak apa kau menyatakannya bertutur beda. Kau menyeret huruf sekenanya. Kadang lucu. Tapi kutahan tawa. Agar kau tak kecewa. Dan bersemangat terus bercerita apa saja.</p>
<p>Aku suka menatap wajahmu ketika kau berkisah Dino yg mengejar mimpimu. Aku tak mengenal siapa yg berleher lebih panjang dari mereka. Dan kau mengingatkanku berulang-kali namanya. </p>
<p>&#8220;Ada yg kupingnya lebar sekali. Tanda suka mendengarkan apa saja. Tapi selalu lupa,&#8221; sindirmu. Lalu kau menyebut mereka yg paling gendut. &#8220;Kalau dicubit tak berasa. Apalagi cuma disindir saja.&#8221; Ah, mengingatkanku pada mereka yg rakus. Makan apa saja termasuk kardus dan tikus.</p>
<p>Tapi aku lupa namanya. Meski kau sudah menaruh huruf besar di muka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1028</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KALAU BIANGLALA TAK BICARA</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1026</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1026#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 22:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama aku tak menyapamu bila bertemu. Saling pura-pura sibuk. Atau saling lupa nama. &#8220;Engkaukah itu Biangnya Lulu?&#8221; Kau tersipu, kelihatan biangnya. Baru saja aku ketemu Lulu, lupa melulu. Mungkin karena sudah aus syaraf ingatku. Atau sedang mendaki tua merangkul lupa. Tapi apa hubungannya dengan bianglala? Ya tak ada, kenapa maksa. Bianglala yg tak kulupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama aku tak menyapamu bila bertemu. Saling pura-pura sibuk. Atau saling lupa nama. &#8220;Engkaukah itu Biangnya Lulu?&#8221; Kau tersipu, kelihatan biangnya.</p>
<p>Baru saja aku ketemu Lulu, lupa melulu. Mungkin karena sudah aus syaraf ingatku. Atau sedang mendaki tua merangkul lupa. Tapi apa hubungannya dengan bianglala? Ya tak ada, kenapa maksa.</p>
<p>Bianglala yg tak kulupa ialah mainan senja.</p>
<p><em>Wates, 16 April 2012</em>
<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2012/04/Bianglala.jpg"><img class="alignnone size-full" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2012/04/Bianglala.jpg" alt="" title="Bianglala.jpg" width="259" height="195" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1026</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUKAU</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1024</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1024#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 22:39:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Aku terpaku pada pukaumu yg menatap senja dengan kerangka seadanya. Hingga segenap cahaya menembus sekujur tubuhmu. Kau terlihat biasa saja tapi kau simpan segala kata. Agar dusta tak mencuri kata semena-mena. Pukaumu silau Pukaumu risau Pukaumu pulau Pukaumu pisau Membedah dada dengan nyaris tanpa cela. Sayatan sempurna. Luka sederhana. Seruan lirih nir rasa perih. Lantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku terpaku pada pukaumu yg menatap senja dengan kerangka seadanya. Hingga segenap cahaya menembus sekujur tubuhmu. Kau terlihat biasa saja tapi kau simpan segala kata. Agar dusta tak mencuri kata semena-mena.</p>
<p>Pukaumu silau<br />
Pukaumu risau<br />
Pukaumu pulau<br />
Pukaumu pisau</p>
<p>Membedah dada dengan nyaris tanpa cela. Sayatan sempurna. Luka sederhana. Seruan lirih nir rasa perih.</p>
<p>Lantas siapa yg kau tunggu sia-sia. &#8220;Tak ada karena aku tak menunggu, tapi mencari!&#8221; </p>
<p>Mengolah rasa sepi. Di kaki matahari.</p>
<p><em>Yogyakarta,  Feb 2012</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1024</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JEMBATAN SUDAH LEWAT</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1022</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1022#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 18:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[ambruk]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman lewat di ruang maya. Sekedar menyapa ia taruh sedikit tanda tanya. Apa kabar, misalnya. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawabku. Tapi aku jadi lebih ringan, meletakkan kata tanpa beban. Jembatan sudah kulalui, menyorongkan salam, lalu sama asyik sendiri. Halo, lagi apa? Menunggu hujan, jawabku. Mungkin ia heran musim hujan kok masih menunggu. Memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/12/wpid-2011-12-07-17.26.24-1.jpg" /></p>
<p>Seorang teman lewat di ruang maya. Sekedar menyapa ia taruh sedikit tanda tanya. Apa kabar, misalnya. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawabku. Tapi aku jadi lebih ringan, meletakkan kata tanpa beban. Jembatan sudah kulalui, menyorongkan salam, lalu sama asyik sendiri.</p>
<p>Halo, lagi apa? Menunggu hujan, jawabku. Mungkin ia heran musim hujan kok masih menunggu. Memang hujan di luar, di tempatmu barangkali, tapi bukan di ruangku. Sumuk. Udara kering. Malah kudengar tempatmu banjir, longsor, hilang rumah, hilang jiwa. Jembatan ambruk. Semua sibuk menghitung, mencacah jiwa, mencatat barang2 yg tersedia disulap jadi kambing. Hitam.</p>
<p>Jembatan yg lain menyatakan siap menjadi penghubungku dengan musim yg lain. Musim yg tak tercatat di kalender dindingku. Meski hurufnya besar dengan angka mencolok. Musim yg dibawa angin. Musim rambutan atau mungkin durian.Musim penawar rasa ingin.</p>
<p>Jembatan segala musim. Menghubungkan atau malah memutuskan segala keinginan untuk segera. Kaya. Lalu beragam upaya, berbagai cara, mengisi celah jembatan itu. Dengan batu. Dengan tipu. Dengan cuci. Melalui jembatan itu yg mencatat dan menyimpan segala gerak. Dan menimbun berulang kali. Jadi tambun.</p>
<p>Dan jembatan itu menyerupai keledai. Mirip kuda. Mirip manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1022</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAJAK SAKIT GIGI</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1019</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1019#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 11:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[bakteri]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[mulut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1019</guid>
		<description><![CDATA[Sudah ditemukan lubang di jalanan gigi-gigi mengayuh gerak dan mengunyah kerak. Dari segala serat yg menjerat daging dan daunan yg bergelantungan. Saling mengerubut. Sudah kau sorot segenap geraham. Lalu kau semproti peremuk nasi itu pemati bakteri. Atau sedikit minyak wangi? Agar membaui kata-kata yg gumpil kau cukil. &#8220;Tapi jangan dulu kau buka mulutmu sampai mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah ditemukan lubang di jalanan gigi-gigi mengayuh gerak dan mengunyah kerak. Dari segala serat yg menjerat daging dan daunan yg bergelantungan. Saling mengerubut.</p>
<p>Sudah kau sorot segenap geraham. Lalu kau semproti peremuk nasi itu pemati bakteri. Atau sedikit minyak wangi? Agar membaui kata-kata yg gumpil kau cukil.</p>
<p>&#8220;Tapi jangan dulu kau buka mulutmu sampai mereka lupa diri,&#8221; pintamu. Lalu kau pura-pura lupa. Lupa gigi luka. Lupa punya nama. Selamanya.</p>
<p><em>Wates Nop 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1019</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KUBIARKAN MALAM MENEBAR HUJAN</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1018</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1018#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 17:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[dingin]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[Tapi hujan tak setia datang. Ia tergantung pada kabut dan angin bertaut. Janji musim masih berpaling. Kenapa kau balik belakang ketika pintu depan sudah kubukakan? Rinai pun terkadang kau semai. Sore tadi tatkala bianglala hanya menampakkan muka. Kau mungkin lagi mengumbar janji pada tempat mukim lain. Atau aku yg abai menghitung musim? Hanya dengus basah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/11/wpid-2011-11-08-17.24.41.jpg" /></p>
<p>Tapi hujan tak setia datang. Ia tergantung pada kabut dan angin bertaut. Janji musim masih berpaling. Kenapa kau balik belakang ketika pintu depan sudah kubukakan?</p>
<p>Rinai pun terkadang kau semai. Sore tadi tatkala bianglala hanya menampakkan muka. Kau mungkin lagi mengumbar janji pada tempat mukim lain. Atau aku yg abai menghitung musim?</p>
<p>Hanya dengus basah yg menerakan arah kau melangkah. Gerak rumput lelah dan ilalang pasrah. Di manakah kau sembunyikan rasa bersalah? Di balik daun basah?</p>
<p>Aku tak ingin melipat malammu, dingin suaramu, yg merambati gelap. Degup waktu yg memelihara ragu. </p>
<p>Aku ingin kau bersanding dalam detakku setanggi. Rindu tak bertepi. Sulut api.</p>
<p>Hujan? Biarkan ia datang belakangan. Sendirian.</p>
<p><em>Wates, 9 Nop 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1018</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GIRIK</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1013</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1013#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 03:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[angka]]></category>
		<category><![CDATA[daging]]></category>
		<category><![CDATA[kupon]]></category>
		<category><![CDATA[lapar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1013</guid>
		<description><![CDATA[Untuk sekerat daging ia butuh kupon yang tak ia punya. &#8220;Namaku tak tercatat di kelurahan. Aku penduduk bayangan,&#8221; ujarmu letih. Tapi kau butuh daging itu untuk lima anakmu. Orang-orang yang mengantri dengan girik di tangan kiri itu, kau kenali. Ia tetangga yang acapkali mengusirmu. Ketika kau menyampaikan kabar lapar. Ketika latar terasa samar. Hilang batas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/11/Girik-kurban-old.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1014" title="Girik kurban-old" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/11/Girik-kurban-old.jpg" alt="" width="160" height="135" /></a>Untuk sekerat daging ia butuh kupon yang tak ia punya. &#8220;Namaku tak tercatat di kelurahan. Aku penduduk bayangan,&#8221; ujarmu letih. Tapi kau butuh daging itu untuk lima anakmu. Orang-orang yang mengantri dengan girik di tangan kiri itu, kau kenali. Ia tetangga yang acapkali mengusirmu. Ketika kau menyampaikan kabar lapar. Ketika latar terasa samar. Hilang batas kabar membelukar.</p>
<p>Bila tanda ia tak, penanda ia punya. Bukan sekedar angka atau aksara.Ia adalah jiwa bersuara di ruang kedap udara. Ruang hampa pematut statistika. Tak bermuka.</p>
<p>Siang mencekal bayang. Kau beringsut tinggalkan kerumunan. Di tangan kirimu girik kau genggam erat, &#8220;Untuk tahun depan menuju pemakaman.&#8221; katamu.  Daging  sebungkus itu? &#8220;Biarlah dimakan anjing yang lebih lapar dariku.&#8221;</p>
<p><em>Wates, 6 Nop 2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1013</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUJAN DAN SUBUH</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1012</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1012#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 18:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Subuh dan hujan berkunjung bergantian datang saling mengulurkan salam. Kabar beredar di antara ruang sunyi, di sela bilik dan serambi yg saling berbisik merangkai pesan. Kita lama tak berbagi, katamu. Ya kita asyik mematut diri, memaksa waktu menghitung angka hingga tak bersua. Biasanya ada geletar suara jangkrik. Dan teriakan katak yg saling menyeru agar hujan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/11/wpid-images-2.jpeg" /></p>
<p>Subuh dan hujan berkunjung bergantian datang saling mengulurkan salam. Kabar beredar di antara ruang sunyi, di sela bilik dan serambi yg saling berbisik merangkai pesan. Kita lama tak berbagi, katamu. Ya kita asyik mematut diri, memaksa waktu menghitung angka hingga tak bersua.</p>
<p>Biasanya ada geletar suara jangkrik. Dan teriakan katak yg saling menyeru agar hujan segera mengendapkan debu. Lalu diam-diam daun saling menyembunyikan embun.</p>
<p>Kau sengaja biarkan kedua tamu itu bertemu menuntaskan rindu. Di kaca jendela kau melekatkan butir-butir rindu. Meluruhkan cuaca yg selalu bersilang kata. Petang. Gerah. Hujan. Tak. Bersulang. Genang. Bocor. Genting. </p>
<p>Lalu air yg kau tuang itu meluruhkan subuh yg setia menunggu. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1012</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PURNAMA MENUNGGU HUJAN</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1010</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1010#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 17:27:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[payung]]></category>
		<category><![CDATA[purnama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1010</guid>
		<description><![CDATA[Di selasar atau mungkin latar, bulan menunggu. Ragu menunggu akankah hujan bertamu? Payung yg siap kau mekarkan juga ragu, barangkali tak lagi lincah menahan air. Menahan getir. Di taman atau mungkin kelokan jalan, kau menunggu langkahku yg berdesir. Air? Aku tak menimbanya berbutir. Aku hanya ingin menyimpan untukmu. Mata airmu. Tapi hujan memang sudah bergegas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/11/wpid-images-3-1.jpg" /></p>
<p>Di selasar atau mungkin latar, bulan menunggu. Ragu menunggu akankah hujan bertamu? Payung yg siap kau mekarkan juga ragu, barangkali tak lagi lincah menahan air. Menahan getir.</p>
<p>Di taman atau mungkin kelokan jalan, kau menunggu langkahku yg berdesir. Air? Aku tak menimbanya berbutir. Aku hanya ingin menyimpan untukmu. Mata airmu.</p>
<p>Tapi hujan memang sudah bergegas membasahi rambutmu hingga tengkukmu yg licin itu. Angin sengaja merabamu dengan kedua tangannya yg dingin. Hangat? Hanya hatimu yg menyala membakari hujan berbunga-bunga.</p>
<p>Kemanakah purnama mengadu bila bulan dan hujan saling mencumbu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1010</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUJAN</title>
		<link>http://slametriyadi.com/?p=1008</link>
		<comments>http://slametriyadi.com/?p=1008#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 19:12:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Slamet Riyadi Sabrawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://slametriyadi.com/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya datang juga hujan. Menggebu. Tengah malam. Tuhan menggodaku dg hilir mudik butir air diterpa angin. Suara itu suara yg kurindu. Hujan menggugah mimpi malam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="display:block;margin-right:auto;margin-left:auto;" alt="image" src="http://slametriyadi.com/wp-content/uploads/2011/10/wpid-images-1.jpg" /></p>
<p>Akhirnya datang juga hujan. Menggebu. Tengah malam. Tuhan menggodaku dg hilir mudik butir air diterpa angin. Suara itu suara yg kurindu. Hujan menggugah mimpi malam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://slametriyadi.com/?feed=rss2&amp;p=1008</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

