JEMBATAN SUDAH LEWAT

Seorang teman lewat di ruang maya. Sekedar menyapa ia taruh sedikit tanda tanya. Apa kabar, misalnya. Lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawabku. Tapi aku jadi lebih ringan, meletakkan kata tanpa beban. Jembatan sudah kulalui, menyorongkan salam, lalu sama asyik sendiri.
Halo, lagi apa? Menunggu hujan, jawabku. Mungkin ia heran musim hujan kok masih menunggu. Memang hujan di luar, di tempatmu barangkali, tapi bukan di ruangku. Sumuk. Udara kering. Malah kudengar tempatmu banjir,
read onSAJAK SAKIT GIGI
Sudah ditemukan lubang di jalanan gigi-gigi mengayuh gerak dan mengunyah kerak. Dari segala serat yg menjerat daging dan daunan yg bergelantungan. Saling mengerubut.
Sudah kau sorot segenap geraham. Lalu kau semproti peremuk nasi itu pemati bakteri. Atau sedikit minyak wangi? Agar membaui kata-kata yg gumpil kau cukil.
“Tapi jangan dulu kau buka mulutmu sampai mereka lupa diri,” pintamu. Lalu kau pura-pura lupa. Lupa gigi luka. Lupa punya nama. Selamanya.
Wates Nop 2011
read on

